Oleh Ulfa Khairina
Gema takbir bersahutan, jalanan lengang, toko tutup
dan aktivitas harian terhenti merupakan penanda hari raya telah tiba di Aceh.
Berbeda dengan negara-negara yang minoritas Islam, suasana seperti ini tentu
tidak bisa dirasakan dan dinikmati layaknya di tanah air. Kerinduan akan
lebaran di rumah dan aneka kegembiraan di kampung halaman adalah harga mahal
yang harus dibayar oleh perantau.
Ada berbagai macam tradisi dalam menyambut idul adha
di seluruh dunia. Begitu juga di Tiongkok, daratan yang disebut sebagai negeri
komunis dan minoritas Islam. Tiongkok yang dikenal sebagai negara berpenduduk
terbesar di dunia. Umat Islam di Tiongkok berasal dari suku Uyghur, Han dan
Hui yang teresebar di seluruh penjuru Tiongkok. Suku-suku tersebut umumnya
berdomisili di Provinsi Xinjiang, Gansu, Shaanxi, Yunnan dan Ningxia.
Beijing, ibukota negara Tiongkok memiliki jumlah
ummat muslim yang cukup besar. Lebih dari 10% penduduk Beijing beragama Islam merupakan
pendatang dari provinsi tersebut dan warga negara asing yang bekerja atau menempuh
pendidikan disana. Meskipun begitu, perayaan hari raya tidaklah begitu menjadi
perhatian di Tiongkok.
Suasana hari raya hanya terjadi ketika berada di masjid,
saat melakukan shalat ‘ied. Di luar masjid, hari suci bagi ummat
muslim seluruh dunia bergembira seolah dongeng dari kejayaan Islam di masa
lalu. Di hari ini, tidak ada toko yang tutup. Hanya beberapa komunitas kecil di
negeri yang merayakan hari kurban secara berkelompok.
Pedagang muslim yang kebanyakan membuka usaha warung
makan justru menjadi keunikan tersendiri bagi perayaan qurban.
Para laoban (bos, pemilik warung)
akan menunggu pengunjungnya di depan pintu. Mereka mengamati pengunjung satu
persatu, khususnya ummat Islam.
Di belakang mereka sudah menyiapkan
berbungkus-bungkus daging qurban yang sudah direbus. Daging kambing yang sudah diolah
dengan rempah tersebut tinggal digoreng atau dimakan begitu saja. Daging-daging
ini akan didistribusikan kepada pengunjung muslim yang umumnya berstatus
pelajar.
Sebelum memberikan daging tersebut, mereka akan
mendatangi si pengunjung. Menjelaskan tujuan memberikan daging qurban
kepada agar si penerima tidak tersinggung. Mereka khawatir bila dianggap tidak
sopan memberikan makanan kurban tersebut.
Penjelasan yang diberikan berkaitan denan makna hari
raya qurban,
sejarah mengapa qurban disembelih. Lalu, seberapa
banyak daging yang diberikan kepada si penerima dan tujuannya apa.
“Daging ini ikhlas saya berikan kepada anda. Insya Allah
halal.”
Pemberi
menekankan kata halal saat menyerahkan.
Tradisi memberikan daging qurban
kepada pengunjung muslim merupakan tradisi pedagang muslim Tiongkok beragama Islam di
Beijing. Tidak hanya laoban yang
bekerja di rumah makan. Bagi para pedagang daging di pasar poton pun akan
melakukan hal yang sama. Memberikan daging kambing mentah kepada pengunjung
langganannya, khsususnya bagi perantau yang menuntut ilmu. Padahal,
daging kambing adalah daging termahal di Tiongkok. Harga 1 jin (500 gram) daging kambing seharga 35 RMB atau lebih dari 70 ribu
rupiah.
Para pedagang muslim percaya, dengan berbagi dan
berkorban di hari yang suci akan menambahkan rezeki mereka berkali-kali lipat
selama setahun mendatang. bahkan keuntungan yang akan diperoleh akan
tergantikan dihari yang sama pula. Tidak perlu menunggu minggu depan, bulan
depan atau setahun kemudian. Karena, rezeki Allah maha luas. Tak akan miskin dengan
bersedekah kepada sesama ummat manusia.
Penulis, alumni Fakultas
Dakwah dan Komunikasi, UIN Ar-Raniry Band Aceh. Saat ini berdomisili di Beijing, dan sedang menempuh pendidikan di Communication
University of China
Tidak ada komentar:
Posting Komentar