Kamis, 17 September 2015

TRADISI QURBAN PEDAGANG TIONGKOK

Oleh Ulfa Khairina

Gema takbir bersahutan, jalanan lengang, toko tutup dan aktivitas harian terhenti merupakan penanda hari raya telah tiba di Aceh. Berbeda dengan negara-negara yang minoritas Islam, suasana seperti ini tentu tidak bisa dirasakan dan dinikmati layaknya di tanah air. Kerinduan akan lebaran di rumah dan aneka kegembiraan di kampung halaman adalah harga mahal yang harus dibayar oleh perantau.

Ada berbagai macam tradisi dalam menyambut idul adha di seluruh dunia. Begitu juga di Tiongkok, daratan yang disebut sebagai negeri komunis dan minoritas Islam. Tiongkok yang dikenal sebagai negara berpenduduk terbesar di dunia. Umat Islam di Tiongkok berasal dari suku Uyghur, Han dan Hui yang teresebar di seluruh penjuru Tiongkok. Suku-suku tersebut umumnya berdomisili di Provinsi Xinjiang, Gansu, Shaanxi, Yunnan dan Ningxia. 

Beijing, ibukota negara Tiongkok memiliki jumlah ummat muslim yang cukup besar. Lebih dari 10% penduduk Beijing beragama Islam merupakan pendatang dari provinsi tersebut dan warga negara asing yang bekerja atau menempuh pendidikan disana. Meskipun begitu, perayaan hari raya tidaklah begitu menjadi perhatian di Tiongkok.

Suasana hari raya hanya terjadi ketika berada di masjid, saat melakukan shalat ied. Di luar masjid, hari suci bagi ummat muslim seluruh dunia bergembira seolah dongeng dari kejayaan Islam di masa lalu. Di hari ini, tidak ada toko yang tutup. Hanya beberapa komunitas kecil di negeri yang merayakan hari kurban secara berkelompok.

Pedagang muslim yang kebanyakan membuka usaha warung makan justru menjadi keunikan tersendiri bagi perayaan qurban. Para laoban (bos, pemilik warung) akan menunggu pengunjungnya di depan pintu. Mereka mengamati pengunjung satu persatu, khususnya ummat Islam. 

Di belakang mereka sudah menyiapkan berbungkus-bungkus daging qurban yang sudah direbus. Daging kambing yang sudah diolah dengan rempah tersebut tinggal digoreng atau dimakan begitu saja. Daging-daging ini akan didistribusikan kepada pengunjung muslim yang umumnya berstatus pelajar.

Sebelum memberikan daging tersebut, mereka akan mendatangi si pengunjung. Menjelaskan tujuan memberikan daging qurban kepada agar si penerima tidak tersinggung. Mereka khawatir bila dianggap tidak sopan memberikan makanan kurban tersebut.

Penjelasan yang diberikan berkaitan denan makna hari raya qurban, sejarah mengapa qurban disembelih. Lalu, seberapa banyak daging yang diberikan kepada si penerima dan tujuannya apa.
“Daging ini ikhlas saya berikan kepada anda. Insya Allah halal.Pemberi menekankan kata halal saat menyerahkan. 

Tradisi memberikan daging qurban kepada pengunjung muslim merupakan tradisi pedagang muslim Tiongkok beragama Islam di Beijing. Tidak hanya laoban yang bekerja di rumah makan. Bagi para pedagang daging di pasar poton pun akan melakukan hal yang sama. Memberikan daging kambing mentah kepada pengunjung langganannya, khsususnya bagi perantau yang menuntut ilmu. Padahal, daging kambing adalah daging termahal di Tiongkok. Harga 1 jin (500 gram) daging kambing seharga 35 RMB atau lebih dari 70 ribu rupiah. 

Para pedagang muslim percaya, dengan berbagi dan berkorban di hari yang suci akan menambahkan rezeki mereka berkali-kali lipat selama setahun mendatang. bahkan keuntungan yang akan diperoleh akan tergantikan dihari yang sama pula. Tidak perlu menunggu minggu depan, bulan depan atau setahun kemudian. Karena, rezeki Allah maha luas. Tak akan miskin dengan bersedekah kepada sesama ummat manusia.

Penulis, alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Ar-Raniry Band Aceh. Saat ini berdomisili di Beijing, dan sedang menempuh pendidikan di Communication University of China


Tidak ada komentar:

Posting Komentar