Banda Aceh (Gema) - Abu Tumin memberi apresiasi kepada Gubernur Aceh, yang telah membangun jalan tembus, dan membebeskan Buloh Seuma dari
isolasi. Dia meminta agar seluruh daerah
lainnya yang masih terisolir agar dibuka jalan tembus.
“Jalan yang sudah ada ditingkatkan lagi kualitasnya
seperti jalan Geumpang dan Meulaboh,”
pinta Abu
Tumin, yang menyempatkan diri bertemu Gubernur, sebelum bertolak ke Malaysia,
berobat.
Hal tersebut dikemukaan Abu Tu Min dalam diskusi
bersama gubernur di Meuligoe Aceh, Banda
Aceh, Sabtu (5/9). Hadir
antara lain Wakil Ketua DPR Aceh Sulaiman Abda, Kadis Syariat Islam Prof
Syahrizal Abbas, Kepala BPPD Aceh Dr H Bustami Usman dan sejumlah SKPA terkait.
Dalam pertemuan
tersebut, Doto Zaini turut mendiskusikan
beberapa hal penting terkait perkembangan
kehidupan masyarakat Aceh, termasuk masalah pembangunan infrastruktur, pembangunan
daerah terisolir dan upaca peningkatan ekonomi
Aceh masa kini dan masa mendatang.
Perkara
ibadah
Gubernur Aceh,
dr H Zaini Abdullah dan ulama karismatik
Aceh, Tgk H Muhammad
Amin Mahmud atau yang kerap disapa Tu
Min Blang Bladeh, berpendapat, pengerahan massa
tidak menyelesaikan perbedaan pendapat.
Abu Tumin meminta ummat Islam, khusus rakyat Aceh, agar tidak meniru
politik orientalis yang memanfaatkan kekuatan massa dalam penyelesaian
persoalannya. Menurutnya, perbedaan bagi ummat Islam menjadi ibadah kepada
Allah jika diselesaikan melalui musyawarah.
“Gerakan massa atau demo tidak
sejalan dengan misi damai dan agama,” kata Abu Tumin, yang didampingi staf khususnya, Waled Marhaban Bakongan.
Diantara hal
yang mendapat perhatian serius Abu Tu Min dan Gubernur adalah terkait isu adanya
pengerahan massa/santri dayah Aceh, tentang tata laksana ibadah di Masjid
Raya Baiturrahman.
Terhadap
isu tersebut, Tu Min berpendapat, pengerahan massa
seperti itu bertentangan dengan politik Islam, mengganggu kedamaian dan
keamanan yang telah dirasakan masyarakat Aceh.
“Dan ini jelas-jelas tidak sejalan dengan agama. Dalam
sejarah demo seperti ini tidak pernah berhasil dan membawa dampak tidak baik
bagi kehidupan umat Islam,” terangnya.
“Apa yang telah dipraktekan selama ini di Masjid Raya telah
sesuai dengan kesepakatan yang ada,” tambahnya.
Lebih lanjut Tu Min meminta semua
masyarakat untuk bersabar menciptakan kedamaian, dan tidak mengganggu
stabilitas sosial kemasyarakat, sambil menunggu muzakarah ulama Aceh yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat. Muzakarah
tersebut akan melibatkan seluruh ulama Aceh, cendekiawan, tokoh masyarakat dan
tokoh ormas Islam.
Tu
Min berharap, gubernur tidak
memberikan peluang dan kesempatan kepada siapa pun untuk "plah Aceh" (pemekaran
provinsi). Menurut Tu Min, hal ini akan memecah belah masyarakat Aceh.
Tu
Min mengharapkan semua rakyat Aceh untuk berlaku santun dan
tidak memaksakan kehendak serta anarkhis dalam menyatakan sesuatu ide dan
pendapat. (Sayed M Husen/Rel)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar