Oleh H. Hilmi Hasballah
Ribuan Jamaah Calon Haji (JCH) Indonesia, saat ini, sudah dan
akan segera berangkat menuju Tanah Suci untuk menunaikan rukun Islam kelima.
Kuota untuk Aceh, tahun ini, mencapai 3.140 orang. Adapun angka waiting
listing (daftar tunggu) mencapai belasan ribu orang. JCH Aceh akan
terbang ke Tanah Suci mulai 9 September 2015.
Ibadah haji memang menarik untuk dibahas. Sebab, panggilan Baitullah
tersebut memiliki banyak keistimewaan dan ganjaran pahala yang berlipat ganda
di sisi Allah SWT. Bahkan, melalui sebuah hadistnya, Rasulullah menyatakan
bahwa tidak ada pahala bagi haji mabrur, kecuali surga. Penegasan
Nabi Muhammad ini makin memotivasi seluruh JCH untuk berlomba-lomba menggapai
kesempurnaan ibadah haji.
Bagi orang yang sudah berhaji pun, rasanya ingin kembali dapat berangkat
menunaikan panggilan ke Baitullah pada musim haji berikut. Karena, haji itu
memang indah dan selalu menjadi dambaan setiap ummat Islam yang sudah memiliki
kemampuan. Berbahagialah siapa pun yang mendapat kesempatan berangkat ke Tanah
Suci, karena dia pada hakikat akan menjadi tamu Allah SWT (dhuzufurrahman).
Sebuah kehormatan dan kemuliaan bagi manusia.
Kondisi cuaca, kelembaban, adat istiadat, dan kehidupan keseharian
masyarakat Mekkah dan Madinah, harus diakui, berbeda dengan Indonesia. Tahun
ini saja, diprediksi JCH akan berhadapan dengan kondisi cuaca yang agak panas
dan menyengat. Diperkirakan bisa mencapai 43-50 derajat Celsius. Dalam kaitan
ini, petugas kesehatan menganjurkan setiap JCH untuk mengonsumsi air menjadi
lebih banyak dan memperbanyak makan buah-buahan segar. Selain itu, menggunakan
masker yang dibahasi air tatkala berada di hamparan terbuka. Insya Allah,
dengan mematuhi semua anjuran petugas, kelancaran dan kesuksesan selama
pelaksanaan ibadah haji akan tercapai.
Selama sekitar 40-42 hari berada di Tanah Suci, JCH akan betul-betul
merasakan dirinya dekat dengan Allah SWT. Waktu yang dilalui dihiasi dengan
menengadahkan tangan serta berdoa secara khusyuk, baik di Masjidil Haram
Mekkah, Masjid Nabawi di Madinah, maupun ketika berziarah ke lokasi-lokasi
bersejarah lainnya. Airmata berlinang tak mampu dibendung, mengenang dosa dan
kesalahan yang mungkin pernah diperbuat selama hidup. Di Tanah Suci, hamba
terasa semakin dekat dengan Sang Maha Pencipta. Airmata senantiasa memasahi
pipi para insan yang khusyuk dan benar-benar menghambakan diri di hadapan Allah
SWT.
Haji mabrur
Pada sisi lain, haji mabrur bukan milik orang yang hanya ingin mendapat
tambahan titel “Pak Haji atau Buk Hajjah” di awal namanya. Atau, sekadar
melancong/ziarah sesuai niat yang dipancangkan sejak dari tanah air. Namun,
haji mabrur bakal bisa dilihat dalam keseharian jamaah haji, baik selama di
Tanah Suci maupun tatkala kembali ke kampung halaman mereka masing-masing. Haji
yang mabrur, akan menjadi teladan dan diteladani oleh warga di sekeliling
kehidupannya. Hari-hari yang mereka lalui selalu dalam mengharap ridha Allah
SWT.
Haji adalah ibadah istimewa. Sangat banyak tempat istijabah doa (makbulnya doa)
yang dijanjikan oleh Sang Khaliq. Beragam aktivitas mewarnai kegiatan jamaah
haji seperti thawaf, berdoa, dan shalat di kompleks Masjidil Haram di Mekkah,
doa di Padang Arafah, melaksanakan shalat arbain dan ziarah ke kubur Rasulullah
di Masjid Nabawi Madinah, serta ziarah ke sejumlah lokasi bersejarah lainnya.
Puncak haji adalah pelaksanaan wukuq di Padang Arafah. Jutaan umat Islam
dari seluruh dunia yang melaksanakan haji, berkumpul di sini. Bisa dibayangkan
betapa padat dan sesaknya lautan manusia di Padang Arafah. Semuanya berbalut
dengan pakaian serba putih. Mereka larut dalam doa dan mengharap ridha Ilahi.
Dianjurkan pula selalu memperbanyak doa, membaca al-Quran, dan zikir, karena
saat itulah salah satu waktu mustajabah doa. Wukuf adalah momentum penegasan
bahwa semua manusia pada prinsipnya adalah hamba Allah SWT. Pejabat tinggi,
anggota parlemen, pegawai rendahan, dan rakyat jelata semua sama di sisi Ilahi.
Yang paling mulia adalah yang memiliki nilai ketaqwaan dan amal shalih di
hadapan Allah SWT.
Orang yang telah menggapai haji mabrur, hidupnya akan semakin bercirikan
islami. Tak lagi sombong dan angkuh. Suka membantu sesama dan gemar menegakkan
kebaikan dan mencegah kemungkaran. Senantiasa menghiasi kehidupan dengan aneka
kegiatan spiritual dan membimbing keluarga dan masyarakatnya ke jalan
kebenaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar