Oleh Ahmad Faizuddin
Kisah
penggusuran warga oleh negara mengingatkan saya kejadian klasik di masa Khalifah ‘Umar
bin Khattab. Waktu itu, seorang Yahudi tua melapor kepada Khalifah,
bahwa rumahnya akan digusur oleh Gubernur Mesir, Amr bin ‘Ash.
Kedua
kasus ini tentu saja mempunyai latar belakang yang berbeda dan tidak dapat
dikomparasi secara langsung. Namun, yang menarik kita simak,
bagaimana sebenarnya sikap seorang pemimpin sejati dalam menyikapi persoalan
seperti ini.
Menurut
riwayat, Gubernur Mesir, Amr bin ‘Ash ingin membangun sebuah masjid disamping
istananya. Namun, di tempat tersebut ada sebuah rumah milik seorang Yahudi
tua. Sang Gubernur memanggil orang Yahudi itu dan memintanya untuk menjual rumah
tersebut. Tetapi orang Yahudi itu tidak berniat untuk menjual
rumahnya. Bahkan Amr bin ‘Ash menawarkan harga yang cukup tinggi, lebih dari harga pasaran, namun tetap saja orang Yahudi itu menolaknya.
Karena
mengalami jalan buntu, sang Gubernur akhirnya menggunakan kekuasaannya. Ia
memerintahkan pegawainya untuk menggusur paksa lahan tersebut. Si Yahudi itu
menangis sedih, karena merasa terzalimi. Kemudian ia berniat mengadukan
kasus ini kepada Khalifah Umar bin Khattab di Madinah.
Sepanjang
perjalanan dari Mesir menuju Madinah, orang Yahudi itu membayangkan sosok
Khalifah yang tentu lebih gagah dari gubernurnya dengan istananya yang lebih
megah. Ketika akhirnya sampai di kota Madinah, ia bertemu dengan seorang lelaki
yang sedang duduk di bawah pohon kurma. Ia pun bertanya, “Wahai tuan, tahukah
anda dimana Khalifah Umar bin Khattab?”
Lelaki itu menjawab, “Ada apa kau mencarinya?”
“Aku ingin mengadukan sesuatu. Dimanakah istananya?”
balas si Yahudi.
“Istananya ada di atas lumpur,” jawab lelaki itu.
Yahudi itu bingung dan bertanya lagi, “Lalu, siapa
pengawalnya?”
“Pengawalnya adalah orang-orang miskin, anak yatim dan
janda-janda tua.”
Yahudi itu bertambah bingung dan kembali bertanya, “Apa
pakaian kebesarannya?”
“Pakaian kebesarannya adalah malu dan taqwa.”
Yahudi itu bertanya lagi, “Dimanakah ia sekarang?”
Lelaki itu menjawab, “Ada di depan engkau.”
Kaget
bukan kepalang Yahudi itu. Ternyata orang yang ia tanyakan tersebut adalah Khalifah
Umar sendiri. Lalu, ia menceritakan perbuatan Gubernur Mesir terhadapnya.
Mendengar laporan tersebut, wajah sang Khalifah memerah marah. Kemudian ia
meminta orang Yahudi itu untuk mengambil sebuah tulang dari tempat sampah.
Dengan
ujung pedangnya, Umar menggores sebuah garis lurus pada tulang tersebut dan
diserahkan kembali kepada si Yahudi dengan pesan, “Bawalah tulang ini ke Mesir
dan berikanlah kepada Gubernur Amr bin ‘Ash.”
Yahudi
itu tentu saja bertambang bingung. Namun, ia segera pulang dan menyerahkan tulang tersebut kepada
gubernurnya. Melihat tulang tersebut, Amr bin ‘Ash merasa gemetar ketakutan. Ia
dengan serta merta memerintahkan untuk membongkar masjid
yang sedang dibina dan membangun kembali rumah milik orang Yahudi itu.
Karena
merasa heran, orang Yahudi itu berkata, “Tunggu! Maaf tuan, tolong jelaskan apa
istimewanya tulang tersebut, sehingga anda membongkar kembali bangunan masjid
itu? Sungguh saya tidak mengerti.”
Gubernur
Amr bin ‘Ash menjelaskan, “Wahai Bapak, tulang ini adalah sebuah peringatan dan
ancaman dari Khalifah Umar bin Khattab. Beliau mengingatkan,
apapun pangkat dan kekuasaan kita, suatu saat kita akan menjadi seperti tulang
ini. Hukum harus dijalankan dengan adil seperti lurusnya garis yang ada di
tulang tersebut. Kalau saya tidak
bertindak adil maka Khalifah yang akan meluruskan dengan pedangnya.”
Orang
Yahudi itu tertunduk haru dengan keadilan dalam Islam. Akhirnya ia mengucapkan
syahadat dan merelakan tanahnya untuk pembangunan masjid.
Subhanallah.
Begitulah
indahnya keadilan dalam Islam. Khalifah Umar telah mencontohkannya dengan sangat baik. Islam
mengajarkan ummatnya supaya tidak berlaku semena-mena terhadap orang lain.
Seorang pemimpin haruslah bersikap adil terhadap rakyat yang dipimpinnya. Misalnya tak
boleh menggusur sembarangan.
Penulis, mahasiswa program Doctoral di Kulliyyah of Education (KOED), International
Islamic University Malaysia (IIUM)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar