Kamis, 17 September 2015

Keadilan Umar Bin Khattab

Oleh Ahmad Faizuddin 

Kisah penggusuran warga oleh negara mengingatkan saya kejadian klasik di masa Khalifah ‘Umar bin Khattab. Waktu itu, seorang Yahudi tua melapor kepada Khalifah, bahwa rumahnya akan digusur oleh Gubernur Mesir, Amr bin ‘Ash.

Kedua kasus ini tentu saja mempunyai latar belakang yang berbeda dan tidak dapat dikomparasi secara langsung. Namun, yang menarik kita simak, bagaimana sebenarnya sikap seorang pemimpin sejati dalam menyikapi persoalan seperti ini.

Menurut riwayat, Gubernur Mesir, Amr bin ‘Ash ingin membangun sebuah masjid disamping istananya. Namun, di tempat tersebut ada sebuah rumah milik seorang Yahudi tua. Sang Gubernur memanggil orang Yahudi itu dan memintanya untuk menjual rumah tersebut. Tetapi orang Yahudi itu tidak berniat untuk menjual rumahnya. Bahkan Amr bin ‘Ash menawarkan harga yang cukup tinggi, lebih dari harga pasaran, namun tetap saja orang Yahudi itu menolaknya.

Karena mengalami jalan buntu, sang Gubernur akhirnya menggunakan kekuasaannya. Ia memerintahkan pegawainya untuk menggusur paksa lahan tersebut. Si Yahudi itu menangis sedih, karena merasa terzalimi. Kemudian ia berniat mengadukan kasus ini kepada Khalifah Umar bin Khattab di Madinah.

Sepanjang perjalanan dari Mesir menuju Madinah, orang Yahudi itu membayangkan sosok Khalifah yang tentu lebih gagah dari gubernurnya dengan istananya yang lebih megah. Ketika akhirnya sampai di kota Madinah, ia bertemu dengan seorang lelaki yang sedang duduk di bawah pohon kurma. Ia pun bertanya, “Wahai tuan, tahukah anda dimana Khalifah Umar bin Khattab?”

Lelaki itu menjawab, “Ada apa kau mencarinya?”
“Aku ingin mengadukan sesuatu. Dimanakah istananya?” balas si Yahudi.
“Istananya ada di atas lumpur,” jawab lelaki itu.
Yahudi itu bingung dan bertanya lagi, “Lalu, siapa pengawalnya?”
“Pengawalnya adalah orang-orang miskin, anak yatim dan janda-janda tua.”
Yahudi itu bertambah bingung dan kembali bertanya, “Apa pakaian kebesarannya?”
“Pakaian kebesarannya adalah malu dan taqwa.”
Yahudi itu bertanya lagi, “Dimanakah ia sekarang?”
Lelaki itu menjawab, “Ada di depan engkau.”

Kaget bukan kepalang Yahudi itu. Ternyata orang yang ia tanyakan tersebut adalah Khalifah Umar sendiri. Lalu, ia menceritakan perbuatan Gubernur Mesir terhadapnya. Mendengar laporan tersebut, wajah sang Khalifah memerah marah. Kemudian ia meminta orang Yahudi itu untuk mengambil sebuah tulang dari tempat sampah.

Dengan ujung pedangnya, Umar menggores sebuah garis lurus pada tulang tersebut dan diserahkan kembali kepada si Yahudi dengan pesan, “Bawalah tulang ini ke Mesir dan berikanlah kepada Gubernur Amr bin ‘Ash.”

Yahudi itu tentu saja bertambang bingung. Namun, ia segera pulang dan menyerahkan tulang tersebut kepada gubernurnya. Melihat tulang tersebut, Amr bin ‘Ash merasa gemetar ketakutan. Ia dengan serta merta memerintahkan untuk membongkar masjid yang sedang dibina dan membangun kembali rumah milik orang Yahudi itu.

Karena merasa heran, orang Yahudi itu berkata, “Tunggu! Maaf tuan, tolong jelaskan apa istimewanya tulang tersebut, sehingga anda membongkar kembali bangunan masjid itu? Sungguh saya tidak mengerti.”

Gubernur Amr bin ‘Ash menjelaskan, “Wahai Bapak, tulang ini adalah sebuah peringatan dan ancaman dari Khalifah Umar bin Khattab. Beliau mengingatkan, apapun pangkat dan kekuasaan kita, suatu saat kita akan menjadi seperti tulang ini. Hukum harus dijalankan dengan adil seperti lurusnya garis yang ada di tulang tersebut.  Kalau saya tidak bertindak adil maka Khalifah yang akan meluruskan dengan pedangnya.”

Orang Yahudi itu tertunduk haru dengan keadilan dalam Islam. Akhirnya ia mengucapkan syahadat dan merelakan tanahnya untuk pembangunan masjid. Subhanallah.

Begitulah indahnya keadilan dalam Islam. Khalifah Umar telah mencontohkannya dengan sangat baik. Islam mengajarkan ummatnya supaya tidak berlaku semena-mena terhadap orang lain. Seorang pemimpin haruslah bersikap adil terhadap rakyat yang dipimpinnya. Misalnya tak boleh menggusur sembarangan.

Penulis, mahasiswa program Doctoral di Kulliyyah of Education (KOED), International Islamic University Malaysia (IIUM)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar