Oleh Syekh Ahmad Al Misri
Saya berwasiat
kepada diri saya sendiri dan kepada hadirin semua untuk bertaqwa kepada Allâh SWT.
Sebab, taqwa kepada Allâh SWT merupakan himpunan segala kebaikan. Taqwa
merupakan pangkal kebenaran hakiki bagi setiap muslim, khususnya bagi setiap
da'i. Taqwa merupakan bekal sejati bagi setiap muslim.
Allah SWT
berfirman: “Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah
kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal. (QS Al Baqarah 2:197)
Hal paling
penting lainnya dalam hidup, sebagai salah satu konsekuensi taqwa, ialah harus
ada hubungan persaudaraan yang kuat, khususnya antar para penuntut ilmu, para
dai. Ukhuwah diniyah (Islamiyah) memiliki pengaruh yang baik dalam kehidupan
ini. Setiap orang akan memiliki pengaruh bagi kawannya dalam hidup.
Apabila seorang
muslim bersahabat dengan orang baik, maka kebaikan ini akan berpengaruh pada
dirinya. Allâh SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah ikhwah (bersaudara);
karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu. (QS Al-Hujurat 49:10)
Kata “ikhwah”
(bersaudara), ketika kita mengatakan “sesungguhnya orang-orang mukmin itu
ikhwah (bersaudara)”, adalah kalimat yang tidak mudah. Maksudnya, seakan-akan
Anda dalam hubungan (persaudaraan antar mukmin) ini mempunyai pertalian yang
sangat erat.
Hubungan
persaudaraan ini bisa lebih kuat dari persaudaraan nasab. Seorang shadiq
(sahabat), ialah seorang yang sungguh-sungguh jujur terhadap sahabatnya dalam
semua urusan hidupnya dan tidak berbasa-basi.
Jika aku
(misalnya) melihat suatu kesalahan pada diri sahabatku, maka aku harus
menasihatinya dengan nasihat hakiki, bukan nasihat yang membuatnya lari dariku,
atau menyebabkannya tidak mau berkumpul lagi denganku. Misalnya, dengan nasihat
yang berbentuk caci-maki atau celaan. Tetapi haruslah dengan nasihat yang
sungguh-sungguh, nasihat yang dia butuhkan.
Ada kaidah agung
yang termasuk kaidah agama dalam berukhuwah. Demi Allâh, jika kaidah ini tidak
terwujud pada diri kita masing-masing, niscaya kita akan memiliki cacat dalam
menjalin tali ukhuwah. Yaitu, jika seseorang tidak berusaha mewujudkan dan
tidak menimbang dirinya berdasarkan petunjuk ukhuwah yang ada dalam hadits.
Hadits ini
merupakan salah satu kaidah agama, yaitu sabda Rasûlullâh SAW: “Tidak sempurna
iman seseorang diantara kalian, sebelum ia menyukai sesuatu untuk saudaranya
apa yang ia suka jika sesuatu itu diperoleh dirinya.”
Jagalah ukhuwah
yang hakiki, ukhuwah yang tidak ada cacian, makian, ghibah (gosip), namimah
(adu domba), qil wal qal (katanya dan katanya/isu) dan berita-berita bohong.
Jagalah kebersamaan dan ukhuwah diantara kita, kekompakan kita dalam
menyelesaikan perbedaan dan permasalahan dalam kehidupan bermasyarakat dan
kehidupan pemerintahan, saling mencintai, saling menghormati.
Saat ini kadang
dalam hal khilafiyyah/furu’iyah, meski masing-masing pihak punya pegangan Al
Quran dan Hadits, pihak yang lain mencaci yang lainnya. Dari membid’ahkan pihak
yang lain, hingga mengkafirkan. Berbagai caci-maki, bahkan fitnah dan
kebohongan pun dilontarkan. Sungguh jauh dari ajaran Islam.
Sesungguhnya
perbedaan pendapat itu hal yang biasa. Di antara suami isteri, kakak adik, para
ulama mazhab seperti Imam Hanafi, imam Malik, imam Syafi’ie dan imam Hanbali saja
biasa terjadi perbedaan pendapat. Bahkan, para Nabi pun seperti Nabi Daud dan
Nabi Sulaiman dijelaskan Allah SWT dalam Surat Al Anbiyaa’ ayat 78 dan 79
berbeda pendapat.
Jika kita saling
menghormati, kita bisa hidup rukun dan damai. Tapi jika tidak bisa menerima
bahkan mencaci-maki pihak lain, yang jadi adalah pertengkaran, perceraian,
bahkan peperangan.
Pada bulan
dzulhijah terdapat 5 hari yang mulia, yaitu pada 9, 10, 11,12,13 dzulhijah,
karena pada hari itu kita ummat muslim disyariatkan berpuasa sunnah pada
tanggal 9 dzulhijah, dan tanggal 10, kita sekalian disunahkan berqurban seperti
kambing, sapi dan unta yang dilaksanakan setelah shalat Idul Adha dan
setelahnya boleh dilaksanakan pada hari tasrik.
Pada bulan ini
kita juga dapat, mengingat kisah teladan dari nabi Ibrahim yang telah ikhlas
mentaati segala perintah ALLAH.
“Maka ketika anak itu sampai (pada umur)
sanggup berusaha bersamanya (Ibrahim ) berkata: Wahai anak ku! Sesungguhnya aku
bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkan lah bagaimana pendapatmu. Dia (Ismail
) menjawab: “Wahai ayahku! Lakukanlah yang di perintahkan (Allah) kepadamu, Insya
Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang ang sabar”
Maka, ketika
mereka berdua telah ikhlas diri dan dia (Ibrahim) memberanikan anaknya atas
pelipisnya, untuk melaksanakan perintah ALLAH, Lalu kami panggil dia wahai
Ibrahim. Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh demikianlah kami
memberi balasan kepada orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar
ujian yang nyata. Dan kami ganti anak itu dengan seekor sembelihan yang
besar.
Qurban
Qurban adalah hewan yang disembelih di hari raya Idul
Adha, berupa unta, sapi, kambing dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah
SWT. Hukum berqurban sunnah muakadah bagi orang muslim yang mampu
melaksanakannya.
Allah SWT berfirman,
"Maka shalatlah pada Rabbmu dan berqurbanlah”. Waktu menyembelih hewan
qurban yaitu setelah shalat Idul Adha hari raya hingga akhir hari tasyrik,
(hari raya, dan 3 hari berikutnya).
Disunahkan memakaan
hewan qurban, menghadiahkan sebagian darinya dan bersedekah kepada orang fakir.
Syarat syarat qurban, tidak cukup dalam berqurban, kecuali sapi yang berumur2
tahun atau lebih, kambing, (domba) berumur 6 bulan atau lebih.
Apabila telah diniatkan
untuk qurban, tidak boleh menjualnya dan tidak boleh pula memberikannya,
kecuali menggantinya dengan yang lebih baik. Seekor kambing itu untuk 1 orang
dan sapi untuk 7 orang dan boleh berqurban untuk dirinya dan keluarganya yang
masih hidup dan yang sudah meninggal.
Diharamkan
kepada orang yang mau berkurban yaitu potong rambutnya, kukunya, dalam 10 hari
pertama bulan dzulhijah, jika dia melakukan salah satu diantara itu, dia harus
meminta ampun dan tidak diwajibkan fidyah atasnya. Begitulah cara dan syarat
syarat kurban.
Hal yang ketiga,
sifat pergi shalat ied disunahkan membersihkan diri, memakai pakaian yang
paling bagus untuk menampakan kegembiraan pada hari itu, adapun wanita tidak
boleh memakai parfum. Disunahkan makan sebelum shalat ied, dan makan dari kurbannya
jika berkurban.
Waktu takbir dimulai
pada 10 dzulhijah hingga tenggelam matahari tanggal 13 dzulhijah. Hal yang
keempat jangan melupakan silaturahmi. Demikianlah khutbah Idul Adha ini, semoga
diterima oleh Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar