Pidato Lengkap Amien Rais Berjudul
'Supaya Indonesia tidak Runtuh'
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan tiba-tiba
memutuskan mendukung pemerintahan Jokowi-JK. Keputusan itu terasa mengejutkan
lantaran PAN tanpa restu keluar dari Koalisi Merah Putih (KMP). Nyatanya,
pendiri PAN Amien Rais mendukung keputusan besannya tersebut.
Dalam konferensi pers di kediamannya di Yogyakarta, Kamis (3/9), Amien
mengungkap alasannya mendukung pemerintahan. Dia pun menulis argumen tersebut
dengan judul 'Supaya Indonesia tidak Runtuh'. Berikut pernyataan lengkap Amien
yang didapat Republika Online dari salah satu
putrinya, Hanum Rais:
Konferensi Pers
“Supaya Indonesia Tidak Runtuh”
Yogyakarta, 3 September 2015
Supaya Indonesia Tidak Runtuh
M. Amien Rais
M. Amien Rais
Hakekatnya ada dua bangunan yang paling
penting bagi setiap negara, yaitu bangunan ekonomi dan bangunan politik. Bila
kedua bangunan itu kuat dan tangguh, negara menjadi kuat dan kenyal menghadapi
setiap tantangan yang ingin menghancurkan negara, baik dari kekuatan internal
maupun eksternal.
Namun bila bangunan ekonomi goyah dan
akhirnya hancur, negara bisa mengalami dua kemungkinan: Pertama, bila bangunan
politik ikut retak dan tidak solid, negara bisa ikut runtuh bahkan lenyap dan
hilang dari peta dunia.
Kedua, bila bangunan politik cukup padu
dan tangguh, kehancuran ekonomi tidak perlu merobohkan negara, karena
kesatu-padu politik nasional dari bangsa dan negara akan mampu memikul bersama
dampak sosial-politik keruntuhan ekonomi tersebut. Kita tidak boleh dihinggapi
penyakit self-complacency, alias berpuas diri, berleha-leha seolah kita tidak
mengalami situasi kritis, terutama masalah ekonomi
yang sekarang semakin terpuruk.
yang sekarang semakin terpuruk.
Kita tidak boleh bersikap seperti burung
unta yang melihat bahaya, dengan menyurukkan dalam-dalam kepalanya ke dalam
pasir, sambil berharap bahaya akan hilang sendiri bersama dengan perjalanan
waktu.
Sebagian
menteri dan pemimpin nasional kita rasanya sudah kehilangan kewaskitaan ketika
menganggap ekonomi kita masih OK, fundamental ekonomi cukup kuat, cadangan
dollar Indonesia masih cukup untuk meladeni perang mata uang (currency
war). Dengan menggenjot
pajak dan mencairkan sisa APBN yang masih 72 persen pada kuartal terakhir 2015,
ekonomi kita akan meroket mulai September dan
benar-benar kita rasakan meroket pada Desember nanti.
benar-benar kita rasakan meroket pada Desember nanti.
Semoga
demikian, namun marilah kita belajar dari keruntuhan Uni Soviet dan Yugoslavia.
Uni Soviet (lengkapnya USSR) yang pernah dijuluki sebagai negara adi daya, adi
kuasa, super power bersama Amerika Serikat, didirikan pada 1922. US meliputi 11
republik Soviet, yaitu Ukraina, Federasi Russia, Belarusia, Armenia,
Azerbaijan, Kazakhstan, Kirghgistan, Moldova, Turkmenistan, Tajikistan dan
Uzbekistan.
Enampuluh
sembilan tahun kemudian pada 1991, USSR bubar, sekali dan untuk selamanya.
Dunia tidak percaya Uni Soviet akhirnya bubar. Dinas Intelejen Soviet (KGB),
termasuk terbaik di dunia, PKUS (Partai Komunis Uni Soviet) partai yang paling
rapih, monolitik dan sangat hierarkis dan sistematik. Tentara merah Rusia,
tentara yang begitu legendaris dan kontrol media massa bersifat absolut, namun
sekali lagi, Uni Soviet akhirnya bubar. Sudah terkubur di rawa-rawa sejarah.
Pembaharuan
Uni Soviet oleh Mikhail Gorbachev dengan 3 simbol perubahan, yaitu glasnost
(keterbukaan), perestroika (restrukturisasi ekonomi) dan demokratizatsiya
(demokratisasi politik) tidak dapat menolong Soviet dari kehancurannya.
Idem
ditto, Yugoslavia. Negara ini didirikan pada 1945 dengan dukungan 6 republik,
yaitu Bosnia-Hercegoviena, Croatia, Macedonia, Montenegro, Serbia, dan
Slovania. Di Eropa Timur, Yugoslavia merupakan negara yang paling kuat dan
paling maju, dibandingkan dengan Hongaria, Albania, Bulgaria, Cekoslovakia dan
lain-lain.
Namun
pada 1991-1992 Yugoslavia mengalami proses disintegrasi, semua republik
pendukungnya sudah lepas dan Yugoslavia tinggal kenangan masa lalu. Negara yang
pernah tenar dibawah Joseph Tito ini sudah terbenam dalam rawa-rawa sejarah
juga.
Mengapa
Uni Soviet dan Yugoslavia hancur dan bubar? Ada 5 sebab utama: Pertama,
menjelang kebangkrutan dua negara itu, masing-masing ekonominya mengalami
kegagalan. Rakyat di kedua negara itu merasa hanya jadi alas kaki para
pemimpinnya, yang rata-rata hanya pandai menebar janji muluk dengan
slogan-slogan menarik.
Rakyat
perlu roti dan keju, bukan janji kosong dan harapan palsu. Kedua, para pemimpin
terlibat konflik untuk perkara-perkara yang semuanya bersifat pragmatis, bahkan
menjurus ke kepentingan hedonistik. Penguasa di kedua negara itu secara sadar
berusaha memecah-belah lawan-lawan politiknya, karena meyakini dengan politik
pecah belah itu pemerintah menjadi kuat.
Ketiga,
rata-rata pemimpin nasional di kedua negara itu tidak kompeten dan dihinggapi
gejala puas diri dan percaya diri yang berlebihan. Bila ketidakkompetenan, rasa
puas diri dan percaya diri berlebihan bergabung dalam diri pemimpin, maka
harapan perubahan dan perbaikan menjadi makin jauh dari kenyataan.
Keempat,
pertikaian antar-etnik sangat marak di tahun-tahun menjelang bubarnya Soviet
dan Yugoslavia. Seluruh republik Soviet non-Rusia meminta lepas dari Moskow dan
seluruh republik di Yugoslavia kecuali Serbia menuntut merdeka dari Beograd.
Kelima,
ada kekuatan global yang ingin melihat kehancuran dua negara tersebut, terutama
kehancuran Soviet. Waktu itu secara resmi Ronald Reagan ingin menghancurkan Uni
Soviet sebagai evil empire atau imperialisme jahat. Bung Karno pernah
mengajarkan pada bangsa Indonesia, bahwa “a nation divided against itself cannot
stand”. Satu bangsa yang pecah kedalam tidak dapat tegak berdiri. Singkat kata,
USSR dan Yugoslavia yang nampak perkasa itu akhirnya ambruk karena mereka pecah
ke dalam.
Bagaimana
dengan Indonesia? Kita perlu mengambil pelajaran dari bangsa lain. Bila kita
jujur, NKRI mengalami semacam kerapuhan politik. Negara kepualauan yang begitu
besar dengan keragaman agama, ras, dan etnik serta tradisi yang berlainan
memerlukan usaha tanpa henti agar bhineka tunggal ika itu benarbenar menjadi
realitas kehidupan bangsa. Disamping itu terlihat bangsa Indonesia sekarang
tidak peka lagi dengan langkah-langkah kekuatan eksternal yang berusaha
melemahkan Indonesia.
Ada
kesan kuat bahwa pemerintah sekarang ini membungkuk di hadapan kekuatan asing.
Sebentar lagi jutaan pekerja asing akan membanjiri Indonesia, sementara
sekarang ini perbankan, pertambangan, pertanian, perkebunan, kehutanan dan
berbagai sektor ekonomi modern sudah didominasi oleh kekuatan asing.
Bukan
tidak mungkin bangsa Indonesia akan menjadi penonton yang lapar ketika
kekuatan-kekuatan ekonomi asing menggasak kedaulatan politik dan ekonomi kita
secara habis-habisan. Mudah-mudahan saya keliru, tetapi proses asingisasi di
berbagai semua sektor ekonomi modern sudah menjadi rahasia umum. Salah satu
contoh telak adalah 78% tanah di DKI dimiliki oleh kelompok tertentu yang punya
jalinan kuat dengan kekuatan asing.
Memang
benar, pemerintah sekarang mewarisi kondisi ekonomi yang tidak ideal dari
pemerintah masa lalu. Tetapi sayang, bukannya melakukan koreksi yang sangat
diperlukan, pemerintah sekarang malah memperparah keadaan, dengan jalan
mempermudah masuknya sebuah kekuatan global yang teramat jelas ingin
mendiktekan dan menguasai ekonomi nasional.
Sebaiknya
kita meningkatkan kewaspadaan nasional kita. Bila bangunan ekonomi kita terus
didera dengan anjloknya rupiah; PHK yang makin luas; dan akhirnya sampai pada
tahapan krisis yang dapat memicu gejolak sosial yang bersifat masif ditambah
dengan semakin menguatnya aspirasi separatisme yang latent di sebagian tubuh
bangsa Indonesia, maka kebutuhan kita untuk menghindari perpecahan politik
menjadi mutlak.
Mutlak.
Seandainya ekonomi kita terus bergerak downward spiral dan ikut berlomba jatuh
ke jurang (race to the bottom), keperluan kita sebagai bangsa untuk bersatu-padu
dan melupakan hal-hal yang sifatnya sepele dan remeh-temeh tentu tidak dapat
ditunda.
Untuk
itulah saya mengusulkan sebuah langkah politik yang kiranya dapat memperkuat
eksistensi kita sebagai bangsa, tatkala rakyat makin resah dan tidak sabar
menderita kesulitan ekonomi yang makin mencekik.
Saya
usulkan agar seluruh kekuatan politik, dalam menghadapi krisis ekonomi,
melakukan sharing of power dan sharing of responsibility. Biasanya orang
cenderung hanya ingin berbagi kekuasaan, tetapi tidak bersedia berbagi tanggung
jawab.
Sudah
tinggi saatnya Pak Jokowi sebagai kepala negara, kepala pemerintahan, dan
panglima tertinggi mengundang seluruh kekuatan bangsa mencari solusi bersama.
Lebih penting dari itu adalah komitmen bersama bahwa NKRI tidak boleh lemah,
apalagi ambruk gara-gara kehancuran ekonomi nasional.
Lakukanlah
pertemuan bersama antara: 1) seluruh ketua lembaga tinggi negara; 2) pimpinan
TNI dan Polri; 3) ketua-ketua umum partai politik; 4) unsurunsur yang mewakili
agama-agama di Indoneisa, semisal MUI, Muhammadiyah, NU dari kalangan Islam,
PGI (umat kristen), Konferensi Wali Gereja Indonesia (umat
Katolik), perwakilan umat Budha, Hindu dan Konghucu; 5) berbagai tokoh bangsa; 6) wakil-wakil kampus trekemuka; 7) wakil-wakil pengusaha; 8) beberapa pemred terkemuka, 9) wakil-wakil NGO/LSM terkemuka; dan lain-lain.
Katolik), perwakilan umat Budha, Hindu dan Konghucu; 5) berbagai tokoh bangsa; 6) wakil-wakil kampus trekemuka; 7) wakil-wakil pengusaha; 8) beberapa pemred terkemuka, 9) wakil-wakil NGO/LSM terkemuka; dan lain-lain.
Elemen-elemen
wakil bangsa itu perlu memiliki kesamaan pandangan tentang krisis yang sedang
kita hadapi. Mungkin diperlukan beberapa hari untuk mengambil sikap yang sama
dan komitmen bersama menghadapi tantangan apapun yang akan datang baik dari
dalam maupun luarnegri. Pertemuan kebangsaan itu dipimpin langsung oleh
Presiden dan Wakil Presiden.
Kita
sedang menghadapi perubahan-perubahan yang cepat di panggung internasional.
Lihatlah Iraq sudah hancur. Suriah sedang menuju kehancuran. Afghanistan sudah
lebih dahulu hancur. Libia kini tidak lagi punya masa depan. Yaman sudah
hancur, Sudan sudah pecah jadi dua dan keduanya sama-sama tidak berhasil; Mesir
bermasa depan makin gelap, dan seterusnya.
Kita
dikejutkan dengan perpecahan masyarakat Melayu di Malaysia. Tokoh-tokoh Melayu,
sebesar Mahatir Muhammad, Anwar Ibrahim dan Nadjib bertarung habis-habisan,
sementara Ustadz Hadi Awang dengan PAS nya menjadi kelompok lain yang berbeda
haluan. Tidak tertutup kemungkinan ada kekuatan lain yang akan memegang kendali
politik dan ekonomi di Malaysia nanti, bila kekuatan politik Melayu sudah
hancur.
Nah,
pertemuan Ketum PAN dan Jokowi harus diletakkan dalam perspektif ini. Kalau
pertemuan itu hanya langkah awal dari apa yang saya harapkan, yaitu memadu
kekuatan politik bangsa untuk menghadapi krisis ekonomi yang sedang kita hadapi,
tentu harus kita syukuri.
Tetapi
kalau hanya berhenti sekedar membujuk PAN masuk ke pemerintahan dengan
perhitungan remeh-temeh agar jumlah kursi pemerintah di parlemen menjadi lebih
besar dari oposisi dan PAN dikasih imbalan dua atau tiga kursi kabinet maka
hakekatnya sedang ada usaha pecah belah kekuatan politik yang mengindikasikan
panggung politik lebih runyam dan gaduh.
Bila
Golkar berhasil dipecah, PPP berhasil diadudomba maka rangkulan pemerintah pada
PAN bisa menjadi rangkulan maut. Sejak dahulu Ketum PAN sudah menegaskan bahwa
berjuang di luar pemerintahan sebagai kekuatan oposisi yang rasional,etis dan
bertanggungjawab juga cukup mulia, semulia mereka yang berada dalam
pemerintahan.
Kita
masih menunggu perkembangan dalam beberapa hari ini, apakah langkah awal itu
akan bermuara pada koalisi nasioal yang benar-benar bekerja untuk kepentingan
bangsa ataukah hanya manuver politik yang tidak terlalu bermakna. Reshuffle
jilid satu tidak berdampak apa apa. Jangan-jangan reshuffle kedua, kalau hanya
tambal sulam, dan tidak diletakkan dalam perspektif jangka panjang, bisa
berakibat lebih buruk lagi.
Karena
itu resep saya cuma satu: semua elemen bangsa duduk bersama, dalam suasana
saling percaya, dengan satu tujuan: andaikata downward spiral ekonomi Indonesia
terpaksa harus terjadi, bangunan politik nasional (persatuan dan kesatuan
bangsa) tidak pernah boleh goyah. Kalau yang memimpin pertemuan kebangsaan itu
langsung oleh Presiden dan wakil presiden sendiri, tentu tidak ada yang perlu
kita curigai.
M. Amien
Rais
sumber: http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/politik/15/09/03/nu385g334-pidato-lengkap-amien-rais-berjudul-supaya-indonesia-tidak-runtuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar