Oleh
Prof. Dr. H. Zainal Abidin Alawy, MA
Penceramah
Halqah Maghrib Masjid Raya
Baiturrahman
Dari Sa’ad r.a dia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Aku heran terhadap orang Islam, apabila ia tertimpa musibah, ia introspeksi diri (muhasabah) dan
bersabar. Apabila ia memperoleh kebaikan, lalu ia memuji Allah dan bersyukur
padaNya. Sesunggunya orang Islam dipahalai oleh Allah dalam segalah hal, bahkan
kepada suapan nasi (makanan) yang dimasukkan kemulutnya”. HR Al-Baihaqy (Lihat As-Sayed Ahmad Al-Hasyimy: Mukhtarul Ahadits An-Nabawiyah wa Al Hikamul Muhammadiyah, huruf “‘IN”, hadits ke- 7, hal 94)
Nabi Muhammad SAW merasa heran dan ajaib terhadap
sifat-sifat terpuji yang dimiliki oleh orang-orang Islam dalam kedudukannya
sebagai hamba Allah yang beriman dan bertaqwa, yang berkemampuan memelihara dan
menahan diri, ketika ditimpa bencana dan penderitaan, serta berkemampuan
menjaga luapan kegembiraan, tanpa bersorak-sorai pada kondisi dan waktu-waktu
tertentu.
Keheranan Nabi SAW itu
tercakup dalam tiga hal:
Pertama, apabila mereka ditimpa oleh sesuatu musibah, yang
didalamnya mengandung penderitaan, kesengsaraan, ketidak-amanan, ketidak-nyamanan, susah gelisah, gundah
gulana, ketidak-stabilan,
yang seyogiyanya mereka harus meronta-ronta, mengeluh, mengaduh, berteriak-riak, isak tangis,
tetapi hal yang seperti itu tidak terjadi pada mereka.
Mereka paham benar dan
mengerti, bahwa segala bentuk bencana, seperti kematian, kebakaran, banjir,
gempa bumi dan tanah lonsor, semuanya telah tersurat dan ditetapkan dan tak terelakkan, sebagaimana
firmanNya: “Katakan (Muhammad), tidak bakal menimpa kami,
melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami dan
hanya kepada Allah bertawakkallah orang-orang yang beriman”.
(QS At-Taubah 9:
51)
Karena memakai prinsip
inilah orang-orang muslim yang beriman memilki sifat: bermuhasabah atau introspeksi diri sendiri, artinya
merenungi apa yang telah menimpa mereka. Mereka meresapi terhadap kesalahan dan
kekurangan yang telah mereka lakukan dan memperbaiki kesalahan setelah menilai
diri mereka.
Kemudian memiliki sifat kesabaran,
yaitu menahan segalah bentuk penderitaan dengan penuh ketabahan, tanpa
menampakkan penderitaan yang mereka rasakan dan tidak ada rasa benci kepada
Allah akan cobaan yang mendera mereka. Dengan sabar inilah mereka mampu
mengendalikan segala bentuk penderitaan, serta selalu bertawakkal dan pasrah kepada Allah.
Kedua, apabila mereka
memperoleh kebaikan atau anugerah
dari Allah, mereka memuji Allah dan bersyukur kepadaNya. Mereka meresapi dengan
perasaan yang mendalam,
bahwa anugerah
itu datang dari Allah. Diterimahnya dengan penuh syukur. Mereka menerima bukan dengan sorak-sorai, kepongahan dan penuh suka ria.
Mereka memahami, bahwa nikmat dan anugerah
itu harus disyukuri,
bahkan perlu diberitahu kepada pihak lain, bagaimana yang terkandung dalam
firman Allah: “Sesunggunya jika kamu bersyukur,
niscaya Aku akan menambah nikmat-Ku
kepadamu.” (QS Ibrahim
14:7). Dan firmanNya: “Dan terhadap nikmat Tuhanmu,
hendaklah engkau nyatakan/beritahukan (dengan bersyukur)”.
(QS Adh-Dhuha
93:11)
Ketiga, ssesunggunya muslim itu
dipahalai dalam segalah hal, sampai dengan suapan (makanan) yang dimasukan ke dalam mulutnya. Apabila seseorang makan dan dia memakannya dengan do’a: “ Ya Tuhan kami, berkahilah kepada
kami apa yang telah Engkau
rezekikan
kepada kami”, maka suapan makanan
yang dimasukkan
kemulutnya sendiri bernilai pahala disisi Allah. Usaha memakan makanan saja dipahalai,
apalagi jika ada makanan yang diberikan kepada pihak yang membutuhkannya
seperti kepada fakir, miskin, anak yatim, orang terlantar atau yang meminta
bantuan makanan kepadanya. Hal yang demikian tentu akan mendapat pahala yang
belipat ganda.
Tiga hal itulah yang mengherankan Nabi SAW atas
kelebihan dan keistimewaan muslim dalam pandangan Allah SWT. Wallahu A’lam Bishshawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar