Rabu, 30 September 2015

Pemuda dan Pembangunan Aceh

Oleh dr. H. Zaini Abdullah

Saya melihat peranan pemuda dalam sosialisasi bermasyarakat sungguh menurun dratis. Dulu, biasanya setiap ada kegiatan masyarakat seperti kerja bakti, acara-acara keagamaan, adat istiadat yang berperan aktif dalam menyukseskan setiap kegiatan adalah pemuda.

Dalam kontek Aceh hari ini, peran pemuda dalam pembangunan Aceh harus menjadi kenyataan. Unsur pemuda Aceh, harus memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan Aceh. Pemuda Aceh tidak boleh apatis, tapi harus memasang cita-cita besar, sebagai pelanjut kejayaan Aceh.

Mentor saya, Teugku Dr. Hasan Di Tiro, dalam mewujudkan cita-citanya untuk mensejahterakan rakyat, selalu menjadikan pemuda sebagai agent of change (pemuda sebagai agen perubahan).
Untuk itu, saya berpikir, semua pemuda Aceh selalu menjadi agen perubahan, dalam skala apapun. Inisiasi dialog dan diskusi pemuda patut digelar banyak tempat. Ini adalah bentuk cara berpikir seorang pembawa pencerahan dan perubahan.

Jadi seharusnya  pemuda  Aceh menjadi inspirasi dalam mengatasi berbagai kondisi dan permasalahan yang ada, terutama dalam hal pembangunan. Pemuda harus mengambil peran strategis bagi kemajuan rakyat Aceh secara radikal.

Membangun Aceh paska konflik dan tsunami tentu tidak mudah. Masih banyak ruang yang perlu kita isi bersama-sama, termasuk memaksimalkan peran pemuda. Untuk itu, setidaknya, pemuda Aceh dapat berperan pada beberapa hal:

Pertama, sudah seharusnya pemuda Aceh berperan dalam mengisi perdamaian dengan program-program yang membawa dampak positif bagi masyarakat. Saya tahu, dalam proses damai tidak lepas dari adanya peran pemuda Aceh. Tapi paska damai, saya tidak melihat, peran signifikan dari pemuda Aceh dalam mengisi perdamaian. Untuk itu, saya tunggu kontribusi nyata pemuda.

Kedua, pemuda Aceh dituntut kreatif melakukan program berkelanjutan (sustainable). Kedepan saya berharap, pemuda Aceh dapat terlibat dalam berpikir dan bertindak bagi kesejahteraan rakyat Aceh. 

Ketiga, pemuda Aceh harus mengisi pembangunan ekonomi. Unsur pemuda Aceh jangan hanya terpaku pada distribusi APBD dan ABPN, tapi pemuda harus mampu menjalin kerjasama bisnis dalam dan luar negeri dan membawa kesejateraan bagi anggotanya.

Keempat, pemuda Aceh harus memperkuat implimentasi dinul Islam. Saya melihat kehidupan sosial pemuda Aceh belakangan mengalami degredasi nilai, maka pemuda harus berperan aktif dalam menyukseskan program-program dinul Islam.

Saya percaya, spirit nasionalisme keindonesian dan keacehan masih melekat pada jiwa pemuda Aceh, karena pemuda sangat berperan penting dalam pembangunan. Sebagai pemegang estafet di masa yang akan datang, generasi muda harus menjadi pembawa cahaya bagi kemajuan Aceh, dengan cara berperan maksimal dalam setiap aktivitas pembangunan Aceh.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar