Banyak pelajaran bisa diambil dari pendistribusian daging
qurban. Satu gampong misalnya mendapat daging qurban berlebih, namun malah ada yang kurang cukup kalau dibagikan. Tapi di Aceh, fakir miskin pasti mendapat
daging qurban meskipun sedikit, berkat pendataan tuha gampong, keuchik dan warga, kita patut bersyukur warga Aceh yang
fakir miskin pasti kebagian jatah qurban. Namun ada problem jika satu gampong
memiliki lebih dari tiga dusun. Tiap dusun memiliki jumlah warga miskin berbeda satu dengan yang lain, sedangkan ketersediaan daging sangat sedikit, maka akan terjadi “cekcok” karena kurang merata dalam pembagian perdusun.
Keuchik Lamgugop, Syauqi A. Majid, S.Ag mengungkapkan, daging qurban di Lamgugop cukup terpenuhi. Tahun ini terkumpul sapi 20 ekor, sedangkan kambing akan
warga bawa sendiri di hari qurban. “Karena daging qurban yang ada berlebih, maka akan didistribusikan ke gampong Alue Naga dan
Dayah Raya,” ungkap Syauqi. Kedua gampong tersebut dalam lingkup Kota Banda Aceh.
Gampong Alue Naga hingga kini belum terkumpul dana qurban,
hingga dua hari menjelang Idul Adha. Keuchik Alue Naga, Zulkifli Usman mengatakan, belum terkumpul dana qurban karena masalah yang terjadi akibat tsunami 2014. Warga empat dusun menuntut harus adil
dalam pembagian, sedangkan dalam pandangan Zulkifli harus dibagi berdasarkan kuota fakir miskin
setiap dusun. Misalnya satu dusun ada 45 warga miskin, sedangkan dusun lain 60 orang lebih, jadi tidak bisa
dibagi rata satu dusun harus satu sapi. Sehingga warga banyak yang protes.
Kasus lain ditemui Zulkifli, pada satu dusun ada
bantuan sapi, namun tetap juga meminta untuk diberikan sapi oleh Keuchik, sedangkan ketersediaan sapi terkumpul hanya tiga ekor, yang harus dibagikan untuk tiga
dusun lainnya.
Karena itu, perlu mekanisme distribusi daging yang tepat sasaran,
teliti dan cermat. Di Aceh, pasti ada daerah yang tidak cukup jatah daging qurban seperti yang dialami Dayah Raya dan Alue
Naga. Langkah yang dilakukan Syauqi
membagikan daging qurban ke gampong lain, bisa dijadikan contoh. Karena tidak semua gampong memiliki warga yang dermawan
dan mampu berqurban.
Kesadaran
Menurut Syauqi, penting juga membangun kesadaran dalam
berqurban. Melalui musyawarah warga
gampong yang dilaksanakan
seminggu sebelum Idul Adha, dia menekankan tradisi berqurban adalah ibadah sunnha terbaik yang mestiya kita laksanakan. “Kita harus memotivasi kesadaran warga,” katanya.
Dia sendiri memberi contoh dalam berqurban, sehingga warga juga ikut serta. Lalu bersama warga dibuat kesepakatan: jika harga sapi
kisaran 20 juta, dibentuk satu kelompok pequrban sapi sebanyak 7 orang, Rp1.750.000 perorang, setelah
terkumpul baru diserahkan kepada Keuchik.
Jadi, Lamgugop berbagi Alue Naga dalam
berbagi daging qurban, sehingga permasalahan
yang dihadapi warga Alue naga yang kebanyakan korban tsunami dan berpenghasilan
sebagai nelayan dapat tertangani. “Ini salah satu solusi dalam pendistribusian daging qurban,” kata Syauqi.
Ada solusi lain, kata Zulkifli, tahun lalu pihaknya mendapat uluran tangan dari donatur qurban seperti Rumah
Zakat, salah satu partai politik, Gampong Pineung, Peurada dan Masjid Raya Baiturrahman/BPHBI. Alhamdulillah. Nelly
Tidak ada komentar:
Posting Komentar