Senin, 29 Februari 2016

Kotak Sunni, Kotak Syiah, Tinggalkan Kotak

Oleh Ahmad Syafii Maarif

Jika dihitung sejak tahun 657 M, saat Perang Shiffin berkecamuk, yang kemudian menciptakan kotak-kotak polarisasi umat Islam sampai sekarang, berarti sudah berlangsung 1.359 tahun sejarah Muslim terpasung dalam kotakkotak politik akibat ulah perseteruan elite Arab Muslim itu.

Suniisme, Syi’iisme, plus Kharijisme seolah telah menjadi sesembahan baru bagi dunia Islam dengan “memaksa” Tuhan berpihak kepada kotak-kotak itu. Alangkah cerobohnya sikap yang serupa ini, tetapi tetap saja tidak disadari. Umat Islam sedunia selama puluhan abad telah terseret oleh sengketa elit Arab itu.

Pertanyaannya adalah mengapa mereka tidak merasa ditipu oleh kotak-kotak yang tidak ada kaitannya dengan Alquran dan Nabi Muhammad SAW itu? Kesadaran sejarah umat Islam amatlah lemah, termasuk saya, padahal sudah mengalami kajian tingkat tinggi.

Sewaktu mengambil program S3 dalam pemikiran Islam di Universitas Chicago, 1979-1982, saya juga belum sadar bahwa kotak-kotak itu adalah sumber bencana yang bertanggung jawab bagi hancurnya persaudaraan umat beriman yang demikian tegas dan gamblang diajarkan Alquran. Dalam perjalanan waktu dengan usia yang semakin menua, saya sampai kepada sebuah kesimpulan: jika umat Islam mau menata kehidupan kolektifnya secara benar berdasarkan agama, tidak ada jalan lain, kecuali kotak-kotak pemicu perbelahan itu harus ditinggalkan sekali dan untuk selama-lamanya.

Selama Al-Quran dan Sunah nabi yang sahih selalu dijadikan pedoman utama,  tidak ada yang harus dicemaskan jika kita semua siap mengucapkan selamat tinggal kepada kotak-kotak penuh darah dan dendam kesumat itu. Ketegangan hubungan antara Iran dan Arab Saudi sekarang ini tidak bisa dipisahkan dari kotak-kotak itu, sekalipun nasionalisme juga merupakan faktor penting.

Adalah nonsens jika kedua pihak berpegang kepada agama dalam makna yang benar. Agama dipakai hanyalah sebatas retorika politik untuk tujuan duniawi. Fenomena semacam ini telah berlaku berkali-kali sepanjang sejarah Muslim. Adapun sikap para aktivis yang membela pihak-pihak yang bersengketa dengan dalil-dalil agama, bagi saya, boleh jadi karena sekrup ubun-ubunnya lagi longgar, terlepas dari kawalan wahyu.

Penganut Sunnisme, penganut Syiahisme, penganut Kharijisme, yang seluruhnya bercorak Arab itu dengan klaim kebenaran masing-masing semestinya mau bercermin dengan cerdas dan tulus kepada realitas umat yang terkapar berkalikali dalam berbagai tikungan sejarah yang menyengsarakan. Saya sungguh gagal memahami mengapa berhala suniisme, syi’iisme, kharijisme masih saja dijadikan Tuhan oleh mayoritas umat Islam di muka bumi hingga sekarang ini.

Ada apa dengan otak kita, ada apa dengan hati kita? Atau Al-Quran mari kita buang sama sekali dan kita menjadi umat yang tuna identitas? Coba simak baik-baik makna ayat ini, “Dan Rasul berkata, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Alquran ini menjadi sesuatu yang tidak dihiraukan’.” ( QS al-Furqan  [25]: 30).

Saya khawatir bahwa ayat ini tidak hanya dialamatkan kepada kafir Quraisy sebagaimana dipahami oleh hampir semua mufasir, tetapi juga kepada siapa saja yang tidak lagi menjadikan Alquran sebagai pedoman pertama dan utama dalam mengatur kehidupan kolektif mereka, seperti yang kita derita sekarang ini.

Ajaibnya, umat yang tercabik selama berabad-abad itu telah mengidap amnesia kolektif tentang bencana sejarah itu. Mungkin sudah ratusan ribu halaman buku yang ditulis oleh masing masing-masing pihak untuk membela keberadaan kotak-kotak yang menyesatkan itu dengan dalil-dalil agama yang terlepas dari benang merah Al-Quran.
Sekiranya kesadaran keagamaan saya sudah berada pada tingkat seperti sekarang ini puluhan tahun yang lalu, saya akan perdebatkan masalah penting ini dengan almarhum Fazlur Rahman (guru saya di Chicago); dengan almarhum H Agus Salim, pemikir Muslim Indonesia; dengan almarhum Hamka, mufasir yang banyak mengilhami cara berpikir saya.

Kotak-kotak pemicu sengketa ini tidak mungkin dilenyapkan jika analisis kesejarahan kita tidak dibentuk oleh Alquran dengan bantuan ‘aqlun shahih wa qalbun salim (otak yang sehat dan benar dan hati yang tulus dan bening).

Dua kekuatan intelektual dan spiritual dalam memahami kitab suci di atas sering benar binasa menghadapi konflik politik dan teologis melanda komunitas Muslim. Tragedi Baghdad pada 1258 saat pasukan Hulagu Khan memorakporandakan ibu kota Kerajaan Abbasiyah patut kita rekamkan kembali sebagai pelajaran moral bagi umat Islam sedunia, jika saja mereka punya hati untuk itu.

Panglima Mongol itu rupanya sudah tahu peta perbelahan Sunni-Syiah di Irak untuk dieksploitasi. Raja Abbasiyah terakhir, Musta’shim, dikenal sebagai penguasa Sunni yang selalu menghina kelompok Syi’i, mempermainkan iman mereka di muka publik. Sebagai raja peminum, Musta’shim lebih suka bergaul dengan pemusik dan para badut tinimbang dengan para penyair dan filosuf.

Karena menyadari raja Sunni ini mau diserang Hulagu, sebagian tokoh Syi’i malah memberi fasilitas kepada pasukan Mongol yang dengan sukarela membantu mereka dalam menguasai beberapa kota dalam perjalanan menuju Baghdad. Dalam situasi kritikal ini, Perdana Menteri a-Alkamzi, seorang penganut Syi’i, mengkhianati sang raja dengan memihak Hulagu. Hulagu berjanji tidak akan menghancurkan tempat-tempat suci kaum Syi’i di Najaf dan Karbala.

Apa yang kemudian berlaku? Serangan atas Baghdad terjadi pada Januari 1258. Saat pasukan Cina sebagai bagian dari tentara Hulagu menerobos dinding luar di bagian timur Baghdad, al-Musta’shim bersama pasukannya keluar sambil memberi tawaran untuk berunding, tetapi ditolak Hulagu.

Selama tujuh hari Baghdad dikepung dan kemudian membunuh sekitar 1 juta penduduknya, baik penganut Sunni maupun penganut Syi’i, karena Hulagu ternyata tidak bisa membedakan mereka. Pemihakan kelompok Syi’i kepada pasukan Mongol menjadi sia-sia. Semuanya binasa di Baghdad. Maka jadilah air Sungai Tigris berubah menjadi merah karena darah Muslim: Sunni dan Syi’i. (Lihat Tarek Fatah, Chasing A Mirage: The Tragic Illusion of An Islamic State. Mississauga, Ontario: John Wiley & Sons, 2008, hlm 232).

Dengan hancurnya Baghdad yang juga diberi nama Madinat al-Salam (Kota Perdamaian), maka Kerajaan Abbasiyah yang renta dalam usia sekitar 500 tahun kini terbenam ke dalam museum sejarah untuk selama-lamanya. Masihkah akan dilanjutkan juga perseteruan Sunni-Syi’i untuk tahun-tahun yang akan datang? Di abad modern, keberingasan pasukan Mongol itu dilanjutkan oleh Amerika dan sekutunya.

Sejarah Syi’i adalah sejarah tragedi demi tragedi. Karena selama berabadabad dikuyo-kuyo penguasa Sunni, kaum Syi’i lalu mengembangkan doktrin taqiyah (penyamaran identitas) demi kelangsungan hidup di lingkungan kaum Sunni yang memusuhi mereka.

Salah satu tragedi pada periode lebih awal ialah terbunuhnya al-Hussain bin Ali pada 680 di Karbala (Irak) di tangan tentara Yazid bin Muawiyah. Baik golongan Sunni maupun golongan Syi’i sama-sama mengutuk pembunuhan keji atas diri cucu nabi ini.

Bagi kaum Syi’i, Karbala dipercaya sebagai tempat suci sampai hari ini. Pembunuhan al-Hussain ini jelas sebuah kebiadaban yang tidak dapat dimaafkan. Namun menjadikan tragedi yang memicu dendam sejarah ini sebagai pembenar untuk merumuskan doktrin teologi dan politik hanyalah akan membunuh rasionalitas dalam penulisan sejarah.

Perseteruan Sunni-Syi’i ini belum juga padam dalam bilangan abad. Jika kita boleh berandai di abad ke-21 ini, maka kejadian inilah yang bakal berlaku: sekiranya Arab Saudi diserang Israel, tidak mustahil Iran akan membantu negara Zionis itu. Begitu pula sebaliknya: jika Iran diserang Israel, maka Arab Saudi akan berpihak kepada Israel.

Saya sampai kepada kesimpulan ini: baik sunnisme maupun syi’isme, seperti telah disebut terdahulu, tidak ada kaitannya dengan Alquran dan misi kenabian, kecuali jika dipaksakan secara ahistoris. Kotak-kotak ini amat bertanggung jawab bagi lumpuhnya persaudaraan umat beriman.


Maka, jika umat Islam di muka bumi memang mau punya hari depan yang diperhitungkan manusia lain, jalan satu-satunya adalah agar kita keluar dari kotak Sunni dan kotak Syi’i itu karena semuanya itu adalah hasil dari pabrik sejarah sekitar 25 tahun sesudah Nabi wafat.

Sumber: Jurnal Ma'arif Vol 10 No 2 Desember 2015



Jumat, 26 Februari 2016

Syahadat Indikator Sukses

Oleh Suhaimi M. Daud

Berbagai tolok ukur dalam menanggapi kesuksesan seseorang. Ada yang menyatakan jika seseorang sukses itu mempunyai harta yang banyak, punya istri cantik, suami tampan, ataupun orang yang memiliki jabatan tinggi, dengan itu  membuatnya dihormati banyak orang. Betulkah itu?

Menurut Islam, tolok ukur seperti itu hanya menyentuh segi lahiriah kesuksesan tersebut. Dibutuhkan tolok ukur yang mendasar menuju sukses. Ternyata Allah menjadikan syahadat sebagai tombol pertama menuju kesuksesan disertai dengan kebahagiaan hidup sejati.

Ada yang menyatakan agama itu abstrak, tidak real. Mereka mengira hidup di alam semesta hanya sebatas apa yang bisa dipandang saja. Orang orang yang berpikir begitu, adalah orang yang orientasi hidupnya materialis, yang hanya mengejar sesuatu bisa dilihat dengan mata dan dinikmati langsung secara lahiriah. Karena itu mereka alergi terhadap agama.

Di antara mereka menuduh agama telah menyebabkan manusia terpecah belah, membuat hidup tak lagi damai. Para pencinta dunia mencintai kebebasan. Mereka melihat orang mukmin hidup dikelilingi aturan dan ketentuan dan terkekang, makanya cara berpikir mereka tak pernah akur. Perpecahan itu sesungguhnya disebabkan ulah manusia, enggan menerima kebenaran dari Tuhan mereka, karena hati mereka dengki dan sombong, maka terpecahbelahlah.

Sesungguhnya sifat yang materialis itu tiada lain adalah kesombongan hatinya. Ketika ia melihat bagaimana tingginya langit, terbitnya matahari, bulan dan bintang serta pergerakannya, apakah itu itu suatu hal yang biasa. Mereka tidak berpikir bahwa ada sesuatu yang besar dibalik semua nikmat Allah.

Menurut mereka, aturan maupun ketetapan Islam itu diturunkan 1.400 tahun lalu, dimana kehidupannya tidak seperti sekarang, aturan itu baik dan bagus, tapi itu saat ketika itu. Adapun sekarang jika aturan atau ketentuan tersebut terus berlaku, tentu saja kaum muslim kini anti kemajuan, kolot dan kaku, Masya Allah! Apakah mereka tidak menyaksikan dengan jelas betapa agung, besar dan dahsyatnya hukum dan kekuasaan, serta keberadaan Allah yang pasti dan nyata pada dirinya dan dialam semesta ini.

Jadi, kesuksesan seseorang diukur sejauhmana komitmennya dalam mengimplementasikan syahadatain dalam kehidupan sehari-hari dan dalam kariernya.  


Sehari Bersama Keluarga Muslim China

Oleh: Ulfa Khairina

Saya mendapat undangan dalam suasana Hari Raya Imlek dari sebuah keluarga etnis Tionghoa. Katanya, akan mengajak ke rumahnya dan mereka menjemput. Awalnya saya berpikir, kami akan menghabiskan waktu di kawasan Beijing dan menikmati waktu liburan di sebuah apartemen. Ternyata mereka menjemput untuk diajak ke provinsi Hebei, satu jam perjalanan dari tempat saya berdomisili mengendarai mobil pribadi.

Keluarga yang mengundang saya termasuk keluarga berada. Satu sisi, kebijakan satu anak yang diterapkan pemerintahan Tiongkok untuk menekan angka pertembuhan penduduk memberikan efek positif. Kehidupan ekonomi, pendidikan dan kelayakan hidup lebih menjamin mereka yang berusaha keras. Sebagai orang luar, saya bisa melihat kehidupan yang layak dari keluarga ini.

Wang Ying, kepala keluarga yang mengundang saya adalah pemilik kedai teh dan memiliki beberapa apartemen untuk disewakan di Beijing. Ia berasal dari provinsi Dongbei, menikah dengan wanita asal Shanxi dan menetap di Beijing. Anaknya seorang ahli di bidang IT. Saya mengenal keluarga ini melalui teman saya yang pernah bekerja dengan Wang Jixian, putra semata wayang mereka.

Ia memiliki rumah di Dachang, sebuah perkampungan muslim di provinsi Hebei yang didomisili oleh etnik Hui. Paman Wang selalu mengadakan pesta setiap liburan nasional Tiongkok. Liburan di Tiongkok merupakan hari istimewa bagi tiap keluarga. Karena saat inilah orangtua dan anak akan berkumpul bergembira. Di hari-hari kerja lainnya, mereka hampir tidak bertemu, karena kesibukan masing-masing. Orang tua bekerja, anak diasramakan untuk pendidikan yang maksimal.

Saat mengundang tamu, keluarga tionghoa akan menyuguhkan teh untuk tamu. Segala jenis dan rasa teh akan disuguhkan. Semakin lama teh disimpan, semakin mahal dan sempurna cita rasanya. Wang Ying seorang yang ahli dalam meramu teh. Ia mempunyai meja khusus untuk perjamuan teh kepada tamunya. Ia tidak membiarkan orang lain mewakilinya berada di balik meja. Teknik jamuan teh ala Tionghoa berbeda sekali dengan cara jamuan teh ala jepang.

Selama satu jam saya dilayani dengan berbagai jenis dan warna teh. Mulai dari teh Wulong (teh terbaik dari Tiongkok) sampai teh melati (teh termurah). Ia juga menjelaskan makna setiap teknik yang dilakukan ketika menyuguhkan teh untuk tamu. Dalam tradisi Tionghoa, tuan rumah tidak menyentuh cangkir teh dengan tangan. Ada alat khusus untuk mengangkat dan meletakkan teh ke hadapan tamu. Karena prinsip keluarga Tionghoa, tamu adalah raja.

Etnis Tionghoa juga terkenal royal kepada tamu. Makan siang saya berlangsung di restauran muslim di Dachang. Restaurant itu adalah milik abang kandung paman Wang. Ia menyuruh kami untuk memilih makanan sesuai selera. Karena tidak paham makanan apa yang menarik, keluarga Wang memilih menu terbaik di restauran tersebut. Mereka memesan kaki kambing untuk setiap tamu asing yang diundang. Menurut tradisi, kaki kambing adalah persembahan tertinggi untuk tamu, juga menu yang termahal dan hidangan istimewa.

Salah satu teman saya memasak kari kambing yang ukup enak dari daging yang disediakan. Keluarga Wang sangat bahagia, karena bisa menikmati masakan dari negara lain.

Sebagai bentuk terimakasih, keluarga Wang kembali menjamu kami dengan yangrou chuanr (sate kambing) yang amat terkenal sebagai makanan muslim tionghoa. Untuk pertama kalinya saya makan daging kambing sangat banyak dan rasanya luar biasa enak.

Keluarga Wang juga tidak keberatan mengantar untuk sholat di masjid. Menjelaskan ini dan itu dan mencoba menjadi penerjemah buat semua tamu undangannya. Paman Wang selalu mencoba memberikan yang terbaik, tidak hanya menjemput, ia juga mengantar kembali ke asrama.

Sungguh ini pengalaman berharga dan pelayanan istimewa sebagai tamu. Demikianlah kita dipersaudarakan Islam. Semoga pula anda berkesempatan bertamu ke negeri ini, membuktikan bahwa pergaulan Islam benar-benar tidak terbatas dan menjangkau negeri yang jauh dari tanoh Aceh.    



Pembangunan Harus Berpihak Petani

Banda Aceh (Gema) - 60 persen masyarakat Aceh adalah petani. Karena itu, diperlukan keberpihakan pembangunan yang total terhadap kepentingan petani, dengan cara menyediakan anggaran yang cukup, pendampingan dan proteksi harga hasil-hasil pertanian. Petani seharusnya menikmati subsidi negara dan hak-hak mereka terlindungi. 
Sudah saatnya petani memiliki kebebasan berorganisasi dan memperjuangkan aspirasi mereka. Bukan waktunya lagi petani diorganisir oleh kaum berdasi, hanya untuk melegitimasi kebijakan yang ada. “Kita ingin dengar suara petani, sebenar-benar petani,” harap Chik Ahmad, seorang buruh tani di Indrapuri, Aceh Besar.
Tak jauh dari harapan ini, Ahad 21/2, berlangsung pelantikan Pengurus Wilayah Serikat Tani Islam Indonesia (STII) Aceh di Banda Aceh. Acara pelantikan dirangkai seminar “Revolusi Pertanian Mewujudkan Kedaulatan Pangan”. STII akan menjadi mitra organisasi petani lainya yang terlebih dahulu eksis di Aceh.
Ketua Umum STII Pusat, Dr Ir H Abdullah Puteh Msi mengatakan, pemeritah harus berpihak kepada sektor pertanian dalam pembangunan. Pemerintah menyediakan anggaran yang besar untuk sektor pertanian dan mengawalnya dari hulu ke hilir. Kita tak boleh membiarkan sektor pertanian dikuasi pemilik modal dan secara tak langsung terbatasnya akses petani lokal.

Berpihak petani


Abdullah Puteh mengatakan, negara belum sepenuhnya berpihak kepada petani. Nasib petani masih sangat memprihatinkan. Karenanya dibutuhkan langkah progresif di bidang pertanian.

Di Amerika Serikat, katanya, anggaran pembangunan pertanian sebesar 18 persen, jadi hampir sama dengan anggaran pendidikan di Indonesia 20 persen. Negara adidaya ini masih menghormati sektor pertanian, tapi kenapa di negara agraris ini, pemerintah tidak berpihak kepada karunia Tuhan yang mampu mensejahterakan rakyat sampai kapanpun.
Kondisi masyarakat tani miskin di Indonesia hanya mempunyai tanah tidak lebih dari seperempat hektar. Pemerintah juga belum maksimal menyediakan bibit unggul dan antisipatif jika terjadi serangan hama.

Menurutnya, pemerintah harus berpihak pada anggaran pertanian,  pendampingan masyarakat tani dan penyiapan segala kebutuhan masyarakat tani dengan harga yang lebih murah dan mudah dicapai. “Jadi realisasikan 10 persen anggaran untuk pertanian dan berhenti dari segala impor item komoditas hasil pangan,” kata mantan Gubernur Aceh ini.

Kembangkan pertanian
Wakil Gubernur Aceh H Muzakir Manaf, meminta mahasiswa agribisnis untuk mengembangkan sektor pertanian yang ada di Aceh. Sebab pertanian merupakan salah satu sektor utama untuk mendorong perekonomian dan menyerap tenaga kerja.

“Sekarang banyak alat pertanian yang canggih, saya yakin mahasiswa pertanian mampu mengembangkan sektor pertanian dan memberikan kontribusi yang besar dalam agribisnis,” katanya.  
Muzakir Manaf menjelaskan, hampir semua bahan makanan pangan dapat dikembangkan di Aceh. Tiga diantaranya menjadi perhatian pemerintah, yaitu padi, kedelai dan jagung.  Untuk tahun 2016, Pemerintah Aceh menargetkan produksi padi hingga 2,7 juta ton, kedelai 131 ribu ton dan jagung 237 ribu ton.
Untuk mengembangkan produktivitas tanaman pangan, Pemerintah Aceh, kata Muzakir Manaf,  mendorong agar masyarakat desa meningkatkan aktivitas pertanian melalui program gampong sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2015 Tentang Desa. Untuk mendorong program ini, pemerintah menyediakan anggaran melalui APBN untuk masing-masing desa di Indonesia.
Kehadiran Undang-Undang Desa, diharapkan mampu memperkuat pengembangan sektor pertanian di Aceh. “Dengan adanya dukungan dana desa, berbagai potensi pertanian yang ada di desa dapat dikembangkan untuk meningkatkan sektor pertanian sehingga lapangan pekerjaan semakin terbuka, desa pun menajadi lebih mandiri,” ujarnya.  
Dr Iskandar mengatakan, permasalahan utama  yang dihadapi oleh para petani adalah hilirnya, yaitu pemasaran yang belum maksimal. Para petani tidak mampu menjual hasil pertanian dengan harga yang sesuai. Bahkan katanya, ketika pertanian memasuki masa penen, harga pasaran jatuh.
“Kita harus mampu menangani masalah ini dengan cara menciptakan mekanisme pemasaran yang efektif, sehingga hasil pertanian dapat tertampung dan dibeli di pasaran,” kata Iskandar.
Karena itu pembangunan pertanian harus berpihak kepada petani dari hulu hinga ke hilir. Pemerintah harus mensubsidi bibit, pupuk dan membangun lahan pertanian baru. Kemudian diperlukan jaminan pemerintah terhadap harga hasil pertanian, melindungi petani dari tengkulak dan memfasilitasi petani memasarkan produk pertanian. Sayed/Dbs
Pengurus Wilayah Serikat Tani Islam Indonesia (STII) Aceh Periode 2015-2016
Ketua: Ir. M. Amin Affan, M.Si
Wakil Ketua I: Drs. Zulkarnaen Gamal
Wakil Ketua II: Ir. Nazar Idris, MP
Wakil Ketua III: L. Munir Umar
Wakil Ketua IV: Amiruddin Usman Daroy, SE
Wakil Ketua V: Dra. Rusnaini
Sekretaris: It. T. Armoza
Wakil Sekretaris: Said Azhar, SAg
Wakil Sekretaris: Faisal Putra Yusuf, SE
Wakil Sekretaris: Jamal Yunus, SH
Wakil Sekretaris: Ardabili Yati, SAg, MA
Wakil Sekretaris: Fahmi Wati, SH
Bendahara: Ir. Lukman Yusuf, M.Si
Wakil Bendahara: Ir. Miswar Basri, M.Si
Wakil Bendahara: Dra. Nurlina

Ketua Bagian Pertanian dan Perkebunan Rakyat
Ir. Nasrullah Hamid
Ketua Bagian Pembangunan Gampong
Drs. Bismi Syamaun
Ketua Bagian Peternakan dan Perikanan
Drh. T. Reza Ferasy, Ph.D
Ketua Bagian Koperasi, BMT dan Usaha Tani
Drs. H. Fakhri Ismail
Ketua Bagian Zakat dan Waqaf
Sayed Muhammad Husen
Ketua Bagian Kader Tani
Dr. Husni, M.Agric
Ketua Bagian Kehutanan, Transmigrasi dan Lingkungan Hidup
Ir. Nazir Akhmad, MS
Ketua Bagian Hukum dan Pembelaan
Darwis, SH
Ketua Bagian Wanita Tani
Ir. Sri Utami
Ketua Bagian Pemuda Tani
Dr. Ir. M. Sayuti A. Rani
Ketua Bagian Komunikasi dan Informatika
T. Mansursyah 



  







Minggu, 10 Januari 2016

Memahami Konsep Insya Allah

Oleh: Ahmad Faizuddin

Sebuah pesan WhatsApp masuk ke handphone. Saya membalas singkat dengan “InsyaAllah”. Tak lama berselang, teks berikutnya muncul, “Ya Akhi, jangan menulis ucapan tersebut dengan satu kata, apalagi menyingkatnya. Karena maknanya berbeda dari kata yang sebenarnya.” Benarkah?

Kalau ditulis insya, maka asal katanya adalah ansya-a yun-syi-u yang berarti membangun atau membuat. Contohnya Insya’ dalam pelajaran bahasa Arab. Maka insya Allah dapat diartikan membuat Allah, na’uzubillah. Sementara jika ditulis terpisah, in artinya jika dan syaa bermakna menghendaki. Jadi dari sudut pandang bahasa, penulisan in syaa Allah lebih tepat dan biasa diterjemahkan dengan jika Allah menghendaki.

Namun, karena perbedaan huruf Hijaiyah dengan alfabet Latin serta tidak adanya pedoman yang baku, maka transliterasi bahasa menjadi berbeda-beda. Di Indonesia kita sering menulis Insya Allah karena pengaruh bahasa Belanda. Padanan yang kita pakai untuk huruf syin (alphabet ke 13 bahasa Arab) adalah sy. Sementara di Malaysia, karena pengaruh bahasa Inggris, maka padanannya adalah sh sehingga menjadi Insha Allah.

Penekanan ucapan dan bunyi huruf dalam bahasa Arab juga menjadikan transliterasi ke dalam bahasa Indonesia berbeda-beda. Contohnya ada yang menuliskan Allah dan Alloh, shalat dan solat. Bahkan ada yang berpendapat bahwa kata Allah bisa dituliskan dengan huruf kecil menjadi allah, karena dalam bahasa Arab tidak ada perbedaan huruf kapital. Namun karena penghormatan kita kepada Dzat Yang Maha Agung, tentu menuliskannya dengan huruf kapital lebih sesuai.

Kemudian persoalan kata in dengan sya ditulis terpisah atau digabungkan sebenarnya tidak masalah. Alasan yang pertama karena transliterasi bahasa Arab ke dalam tulisan Latin tidak mempunyai konsekuensi syari’ah; alasan yang kedua adalah yang penting bagaimana kita mengucapkan ungkapan tersebut dengan benar sesuai dengan kaidah asli dalam bahasa Arab. Kalau kita salah mengucapkannya maka tentu artinya pun akan berbeda; dan alasan yang ketiga, ada yang berpendapat bahwa tidak masalah bagaimana penulisannya, yang penting adalah niat kita.

Menurut Penulis, hal-hal semacam ini tidak perlu kita perdebatkan karena tidak menghasilkan amal yang nyata. Salah seorang dosen senior saya malah sering membalas pesan dengan lebih singkat: iA. Tentunya yang beliau maksudkan in syaa Allah dan tidak mungkin yang lainnya.

Kalau harus terpaku dengan transliterasi bahasa yang ketat, maka akan sangat susah membuat kata-kata lain seperti masya Allah ditulis menjadi maa syaa Allah, Aisyah ditulis ‘Aa-isyah dan sebagainya. Karena ini menyangkut dengan persoalan bahasa dan bukan keyakinan, maka boleh dianggap sebagai bentuk kemudahan. Allah SWT menghendaki kemudahan dalam beragama (Q.S. Al-Baqarah: 185).

Daripada memperdebat masalah ini, bukankah lebih baik kalau kita menjadikannya sebagai bentuk tawakkal sebagaimana termaktub dalam Surat Al-Kahfi: Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, (Q.S. 18:23) kecuali (dengan menyebut): ‘Insya Allah.’ Dan ingatlah kepada Rabbmu jika kamu lupa dan katakanlah: ‘Mudah-mudahan Rabbku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.’(Q.S. 18:24).

Ayat ini turun berkenaan dengan pertanyaan orang Quraisy kepada Muhammad SAW tentang roh, ashabul kahfi dan Zulkarnain. Nabi SAW menjawab, “Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan” tanpa mengucapkan Insya Allah. Dan menurut riwayat, wahyu terlambat turun sampai 15 hari sehingga Nabi tidak dapat memberikan jawabannya (Tafsir Imam Qurthubi, Juz 10). Ayat ini merupakan peringatan apabila kita berjanji maka jangan lupa mengucapkan Insya Allah, jika Allah menghendaki. 

Jumhur Ulama berpendapat bahwa berjanji dengan tambahan ucapan Insya Allah adalah sunnah dan dianjurkan. Janji adalah hutang. Maka tanpa alasan (uzur) yang jelas, menyalahi janji termasuk perbuatan orang munafik. Mengucapkan itu mudah namun konsekuensinya berat.  

Sebagai kesimpulan, tidak masalah bagaimana cara menuliskan ungkapan yang bermakna jika Allah menghendaki. Yang penting adalah bagaimana kita mengucapkannya dengan benar sebagaimana kaidah asli dalam bahasa Arab. Ketika kita mengucapkan ungkapan tersebut, tentu pemahaman dan niat kita benar-benar tulus. Yang justru menjadi masalah adalah implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ada orang yang mengundang kita lalu kita balas dengan In Syaa Allah, berapa persen kira-kira komitmen kita untuk memenuhi undangan tersebut? Wallahu a’lam.

Pusi: Sendiri

Puisi:

Hefa Lizayanti:

Sendiri

Merasa sendiri
Dalam bising dunia
Adalah keajaiban yang nyata
Kau, aku, kita, memang dilahirkan sendiri sendiri
Masing-masing belaka
Tak berbilang pribadi
Kelak juga akan pulang sendiri sendiri                                                       
Kala dipanggil kembali
Maka sungguh, cukup Allah saja tempat keluh kesahmu
Sebab tiada sesiapa yang merasa
Tepat seperti yang kau rasa
Juga tiada sesiapa yang mampu memahami
Tepat seperti kau ingini
Hanya Allah semata
Yang Maha Tahu setiap detail pribadi kita
Pulangkanlah kepada-Nya
Jika kau tambat harapmu pada manusia
Maka kecewa akan menyerta
Sebab manusia tak pernah luput dari alpa
Tidak saat ini, kelak mestilah terjadi
Tidak pada semua, pada satu, dua, dan atau tiga pastilah ada
Bahkan lembaran catatan yang sangat pribadi
Kau simpan di lubuk gelap nan pekat
Dalam sistem yang sulit terlacak
Ia juga masih mungkin membuka aib diri
Hanya pada-Nya, benar-benar hanya Dia semata.

Takengon, 23122015

MEMPERBANYAK AMAL SHALIH PADA TAHUN 2016

NASKAH KHUTBAH JUMAT
Di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh pada  08 Januari 2015


Khatib Drs. Tgk. H. Sri Darmawan, Ketua Komisi C MPU Aceh Besar

MEMPERBANYAK AMAL SHALIH PADA TAHUN 2016


Tak terasa memang, waktu terus bergulir. Hingga saat ini kita telah memasuki tahun yang baru. Kita semua menyadari bahwa umur kita dari hari ke hari bukanlah bertambah, namun sebaliknya semakin hari semakin berkurang, kurang dan terus berkurang hingga datang ajal. Artinya kesempatan kita untuk memperbanyak amal shalih semakin habis, sedangkan perbuatan dosa selalu bertambah terus, tanpa tanpa ada penyesalan, seperti kata orang Arab:

"Engkau tetap hidup dalam kelengahan dan hatimu lupa hilanglah umurmu, sedang dosa-dosamu tetap seperti keadaannya".

Semestinya kita harus pandai-pandai memanfaatkan kesempatan sebelum kesempatan itu habis direnggut maut. Isilah kesempatan yang tersisa itu untuk beramal shalih dan jangan ada kesempatan yang terbuang percuma dan sia-sia belaka.

Di awal tahun masehi ini, kita harus mencapai kehidupan yang lebih baik, amal shalih yang lebih banyak dari pada kehidupan yang lalu.

Dan jangan suka menunda sesuatu yang berarti. Ingat firman Rabbi dalam surat Al-A'raf ayat 34:

"Tiap ummat itu mempunyai ajal, maka apabila datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya sesaatpun, dan tidak dapat pula memajukannya".

Mati itu suatu ketentuan yang pasti dialami oleh setiap orang, sekalipun ia telah berusaha menghindarinya, namun anehnya banyak manusia yang melalaikan mati, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Mukminun ayat 15:

"Kemudian sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar akan mati".

Tegasnya, kita harus menyadari bahwa kematian itu pasti datang, bisa saja menimpa kita dikala tua dan tak tertutup kemungkinan dia jemput kita di usia muda belia. Terkadang sore, terkadang malam dan datangnya tak terduga. Oleh karena itu, mari kita isi kesempatan di tahun ini dengan amal shalih untuk mencari ridha ilahi.

Baginda Rasulullah Muhammad SAW telah bersabda:

Kerjakan lima perkara sebelum tertimpa lima keadaan:
1. Pada masa hidupmu sebelum datang masa kematianmu
2. Pada masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu
3. Pada masa luangmu sebelum datang masa sibukmu
4. Pada masa mudamu sebelum datang masa tuamu
5. Pada masa kayamu sebelum datang masa miskinmu

Di dunia kita menanam segala amal shalih pasti akhirat kita akan memetik pahalanya. Kebenaran yang kita tanam dengan keikhlasan, keberkahan dan kasih sayang ilahi yang kita raih, amalan hamba tidak pernah hilang dari pantauan Rabbi dan tidak akan dirugikan oleh Rabbi, sesuai firman-Nya dalam surat Al-Jasiyah ayat 28-29:

“Dan (pada hari itu) kamu Lihat tiap-tiap umat berlutut, tiap-tiap ummat dipanggil untuk (melihat) buku catalan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. (Allah berfirman): "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan".

Takalon ummat jiduek meuteot
Bandum teumakot sebab but salah
Bandum geumehoi geuyu cok kitab
But dilee meuhat jino geu balah
Nyoe kitab gata jikheun yang beuna
Pue takeurija bandum jiepeugah
Peu yang tapubuet ka kamoe salein

Semoga dengan ayat ini kita semua dapat selalu memanfaatkan kesempatan untuk memperbanyak amal shalih, bertaubat kepada Allah dan berzikir kepada-Nya.

Kata Abu bakar Shiddiq: kegelapan dan kehidupan ada lima macam dan lampu penerang nya pun ada lima macam:
1. Cinta dunia adalah kegelapan, sementara lampu penerang adalah taqwa
2. Dausa itu adalah gelap, lampunya adalah taubat
3. Kubur adalah gelap, lampunya adalah bacaan kalimah
4. Akhirat adalah gelap, lampunya adalah amal shalih
5. Jembatan shirathal mustaqim gelap, lampunya adalah keyakinan

Makanya Rasulullah mengingatkan kita dalam salah satu pidatonya:
"Segerakan olehmu dengan taubat sebelum mati dan segerakan olehmu dengan shalat sebelum luput waktunya".

Kata Jabir bin Abdullah radhiallahu 'anhu, Rasulullah membaca khutbahnya pada hari Jum'at:

"Hal manusia, taubat olehmu pada rabbimu dahulu daripada mati".
"Dan pergunakanlah kesempatan hidup ini untuk beramal shaleh sebelum kalian bimbang oleh dunia".
"Dan hubungkan olehmu akan amal anatara kamu dengan Tuhanmu dengan memperbanyak zikir kepada-Nya.
"Dan perbanyak shadaqah dengan rahasia atau dengan terang-terangan, maka Allah akan memberi rezeki dan menolong, serta memberi kemenangan kepada kamu sekalian".
Sungguh betapa mulianya orang-orang yang mau memperbanyak amal shalih di sisi Tuhannya, sesuai firman Allah dalam surat Al-Jasiyah ayat 30:

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, maka Tuhan mereka memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga). Itulah keberuntungan yang nyata.”

Sebagai kesimpulan akhir, paling tidak, di awal tahun ini kita harus menyadari ada lima tugas dan tanggung jawab, harus dapat kita laksanakan, insya Allah.

Pertama, melakukan islamisasi dalam diri kita. Maksudnya kita harus membentuk diri kita menjadi pribadi yang islami, sehingga segala sikap dan prilaku kita mencerminkan nilai-nilai islami yang agung, serta tarbiyah islamiyah, pendidikan yang islami harus berlangsung dengan sebaik-baiknya.

Tugas dan tanggung jawab yang kedua pada tahun ini, membangun rumah tangga yang islami, apalagi rumah tangga sering disebut sebagai unit terkecil dari masyarakat. Manakala masyarakat islami ingin diwujudkan, mutlak harus dibangun terlebih dahulu rumah tangga yang islami dan di sini kita berharap akan lahir generasi yang shalih. Dan pernikahan sangat dianjurkan di dalam Islam, bahkan harus dipermudah, disisi lain perceraian harus dipersulit, namun sekarang ini amat kita sayangkan justru sebaliknya, pernikahan jadi begitu sulit, sedangkan perceraian begitu mudah, akibatnya perzinaan semakin merajalela.

Tugas kita yang ketiga adalah memaksimalkan fungsi masjid sebagai pusat pembinaan ummat. Diakui atau tidak, kenyataan masjid kita umumnya dalam keadaan kritis, baik dan kepengurusan, program, dana, fasilitas penunjang maupun khatib, bahkan hingga partisipasi jama'ah yang amat kurang dalam memakmurkan masjid.

Tugas kita yang keempat, melibatkan diri dalam dakwah, karena dakwah tugas bagi setiap orang yang mengaku muslim, bukan hanya tugas orang-orang tertentu saja. Kita ini harus digolong oleh Allah dalam kelompok khairul ummah.

Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 110:
“Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah.”

Bandum geutanyoe sineujroh ummat
Nyang neupeutubit keuno lee Allah
Tayue buet yang got-got tatham buet jeuheet
Teuma lom meuhat iman keu Allah

Tugas dan tanggung jawab yang kelima (terakhir) adalah persoalan kaum muslimin di berbagai negara di belahan bumi ini, tampaknya butuh perhatian kita. Dan kita sekarang ini mudah termakan oleh berita, press Barat yang benci melihat kemajuan ummat dan kita harus membentuk opini yang memberikan dukungan kepada perjuangan kaum muslimin.