Oleh Suhaimi M. Daud
Berbagai tolok ukur dalam
menanggapi kesuksesan seseorang. Ada yang menyatakan jika seseorang sukses itu
mempunyai harta yang banyak, punya istri cantik, suami tampan, ataupun orang yang
memiliki jabatan tinggi, dengan itu
membuatnya dihormati banyak orang. Betulkah itu?
Menurut Islam, tolok ukur
seperti itu hanya menyentuh segi lahiriah kesuksesan tersebut. Dibutuhkan tolok
ukur yang mendasar menuju sukses. Ternyata Allah menjadikan syahadat sebagai
tombol pertama menuju kesuksesan disertai dengan kebahagiaan hidup sejati.
Ada yang menyatakan agama itu
abstrak, tidak real. Mereka mengira hidup di alam semesta hanya sebatas apa
yang bisa dipandang saja. Orang orang yang berpikir begitu, adalah orang yang
orientasi hidupnya materialis, yang hanya mengejar sesuatu bisa dilihat dengan
mata dan dinikmati langsung secara lahiriah. Karena itu mereka alergi terhadap
agama.
Di antara mereka menuduh agama
telah menyebabkan manusia terpecah belah, membuat hidup tak lagi damai. Para
pencinta dunia mencintai kebebasan. Mereka melihat orang mukmin hidup
dikelilingi aturan dan ketentuan dan terkekang, makanya cara berpikir mereka
tak pernah akur. Perpecahan itu sesungguhnya disebabkan ulah manusia, enggan
menerima kebenaran dari Tuhan mereka, karena hati mereka dengki dan sombong,
maka terpecahbelahlah.
Sesungguhnya sifat yang
materialis itu tiada lain adalah kesombongan hatinya. Ketika ia melihat
bagaimana tingginya langit, terbitnya matahari, bulan dan bintang serta
pergerakannya, apakah itu itu suatu hal yang biasa. Mereka tidak berpikir bahwa
ada sesuatu yang besar dibalik semua nikmat Allah.
Menurut mereka, aturan maupun
ketetapan Islam itu diturunkan 1.400 tahun lalu, dimana kehidupannya tidak
seperti sekarang, aturan itu baik dan bagus, tapi itu saat ketika itu. Adapun
sekarang jika aturan atau ketentuan tersebut terus berlaku, tentu saja kaum
muslim kini anti kemajuan, kolot dan kaku, Masya Allah! Apakah mereka tidak
menyaksikan dengan jelas betapa agung, besar dan dahsyatnya hukum dan kekuasaan,
serta keberadaan Allah yang pasti dan nyata pada dirinya dan dialam semesta
ini.
Jadi, kesuksesan seseorang
diukur sejauhmana komitmennya dalam mengimplementasikan syahadatain dalam
kehidupan sehari-hari dan dalam kariernya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar