Oleh: Ulfa Khairina
Saya mendapat undangan dalam suasana Hari Raya Imlek dari
sebuah keluarga etnis Tionghoa. Katanya, akan mengajak ke rumahnya dan mereka
menjemput. Awalnya saya berpikir, kami akan menghabiskan waktu di kawasan
Beijing dan menikmati waktu liburan di sebuah apartemen. Ternyata mereka
menjemput untuk diajak ke provinsi Hebei, satu jam perjalanan dari tempat saya berdomisili
mengendarai mobil pribadi.
Keluarga yang mengundang saya termasuk keluarga berada.
Satu sisi, kebijakan satu anak yang diterapkan pemerintahan Tiongkok untuk
menekan angka pertembuhan penduduk memberikan efek positif. Kehidupan ekonomi,
pendidikan dan kelayakan hidup lebih menjamin mereka yang berusaha keras.
Sebagai orang luar, saya bisa melihat kehidupan yang layak dari keluarga ini.
Wang Ying, kepala keluarga yang mengundang saya adalah
pemilik kedai teh dan memiliki beberapa apartemen untuk disewakan di Beijing.
Ia berasal dari provinsi Dongbei, menikah dengan wanita asal Shanxi dan menetap
di Beijing. Anaknya seorang ahli di bidang IT. Saya mengenal keluarga ini
melalui teman saya yang pernah bekerja dengan Wang Jixian, putra semata wayang
mereka.
Ia memiliki rumah di Dachang, sebuah perkampungan muslim
di provinsi Hebei yang didomisili oleh etnik Hui. Paman Wang selalu mengadakan
pesta setiap liburan nasional Tiongkok. Liburan di Tiongkok merupakan hari istimewa
bagi tiap keluarga. Karena saat inilah orangtua dan anak akan berkumpul
bergembira. Di hari-hari kerja lainnya, mereka hampir tidak bertemu, karena
kesibukan masing-masing. Orang tua bekerja, anak diasramakan untuk pendidikan
yang maksimal.
Saat mengundang tamu, keluarga tionghoa akan menyuguhkan
teh untuk tamu. Segala jenis dan rasa teh akan disuguhkan. Semakin lama teh
disimpan, semakin mahal dan sempurna cita rasanya. Wang Ying seorang yang ahli
dalam meramu teh. Ia mempunyai meja khusus untuk perjamuan teh kepada tamunya.
Ia tidak membiarkan orang lain mewakilinya berada di balik meja. Teknik jamuan
teh ala Tionghoa berbeda sekali dengan cara jamuan teh ala jepang.
Selama satu jam saya dilayani dengan berbagai jenis dan
warna teh. Mulai dari teh Wulong (teh terbaik dari Tiongkok) sampai teh melati
(teh termurah). Ia juga menjelaskan makna setiap teknik yang dilakukan ketika
menyuguhkan teh untuk tamu. Dalam tradisi Tionghoa, tuan rumah tidak menyentuh
cangkir teh dengan tangan. Ada alat khusus untuk mengangkat dan meletakkan teh
ke hadapan tamu. Karena prinsip keluarga Tionghoa, tamu adalah raja.
Etnis Tionghoa juga terkenal royal kepada tamu. Makan
siang saya berlangsung di restauran muslim di Dachang. Restaurant itu adalah
milik abang kandung paman Wang. Ia menyuruh kami untuk memilih makanan sesuai
selera. Karena tidak paham makanan apa yang menarik, keluarga Wang memilih menu
terbaik di restauran tersebut. Mereka memesan kaki kambing untuk setiap tamu
asing yang diundang. Menurut tradisi, kaki kambing adalah persembahan tertinggi
untuk tamu, juga menu yang termahal dan hidangan istimewa.
Salah satu teman saya memasak kari kambing yang ukup enak
dari daging yang disediakan. Keluarga Wang sangat bahagia, karena bisa
menikmati masakan dari negara lain.
Sebagai bentuk terimakasih, keluarga Wang kembali menjamu
kami dengan yangrou chuanr (sate
kambing) yang amat terkenal sebagai makanan muslim tionghoa. Untuk pertama
kalinya saya makan daging kambing sangat banyak dan rasanya luar biasa enak.
Keluarga Wang juga tidak keberatan mengantar untuk sholat
di masjid. Menjelaskan ini dan itu dan mencoba menjadi penerjemah buat semua
tamu undangannya. Paman Wang selalu mencoba memberikan yang terbaik, tidak
hanya menjemput, ia juga mengantar kembali ke asrama.
Sungguh ini pengalaman berharga dan pelayanan istimewa
sebagai tamu. Demikianlah kita dipersaudarakan Islam. Semoga pula anda
berkesempatan bertamu ke negeri ini, membuktikan bahwa pergaulan Islam
benar-benar tidak terbatas dan menjangkau negeri yang jauh dari tanoh
Aceh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar