Jumat, 26 Februari 2016

Sehari Bersama Keluarga Muslim China

Oleh: Ulfa Khairina

Saya mendapat undangan dalam suasana Hari Raya Imlek dari sebuah keluarga etnis Tionghoa. Katanya, akan mengajak ke rumahnya dan mereka menjemput. Awalnya saya berpikir, kami akan menghabiskan waktu di kawasan Beijing dan menikmati waktu liburan di sebuah apartemen. Ternyata mereka menjemput untuk diajak ke provinsi Hebei, satu jam perjalanan dari tempat saya berdomisili mengendarai mobil pribadi.

Keluarga yang mengundang saya termasuk keluarga berada. Satu sisi, kebijakan satu anak yang diterapkan pemerintahan Tiongkok untuk menekan angka pertembuhan penduduk memberikan efek positif. Kehidupan ekonomi, pendidikan dan kelayakan hidup lebih menjamin mereka yang berusaha keras. Sebagai orang luar, saya bisa melihat kehidupan yang layak dari keluarga ini.

Wang Ying, kepala keluarga yang mengundang saya adalah pemilik kedai teh dan memiliki beberapa apartemen untuk disewakan di Beijing. Ia berasal dari provinsi Dongbei, menikah dengan wanita asal Shanxi dan menetap di Beijing. Anaknya seorang ahli di bidang IT. Saya mengenal keluarga ini melalui teman saya yang pernah bekerja dengan Wang Jixian, putra semata wayang mereka.

Ia memiliki rumah di Dachang, sebuah perkampungan muslim di provinsi Hebei yang didomisili oleh etnik Hui. Paman Wang selalu mengadakan pesta setiap liburan nasional Tiongkok. Liburan di Tiongkok merupakan hari istimewa bagi tiap keluarga. Karena saat inilah orangtua dan anak akan berkumpul bergembira. Di hari-hari kerja lainnya, mereka hampir tidak bertemu, karena kesibukan masing-masing. Orang tua bekerja, anak diasramakan untuk pendidikan yang maksimal.

Saat mengundang tamu, keluarga tionghoa akan menyuguhkan teh untuk tamu. Segala jenis dan rasa teh akan disuguhkan. Semakin lama teh disimpan, semakin mahal dan sempurna cita rasanya. Wang Ying seorang yang ahli dalam meramu teh. Ia mempunyai meja khusus untuk perjamuan teh kepada tamunya. Ia tidak membiarkan orang lain mewakilinya berada di balik meja. Teknik jamuan teh ala Tionghoa berbeda sekali dengan cara jamuan teh ala jepang.

Selama satu jam saya dilayani dengan berbagai jenis dan warna teh. Mulai dari teh Wulong (teh terbaik dari Tiongkok) sampai teh melati (teh termurah). Ia juga menjelaskan makna setiap teknik yang dilakukan ketika menyuguhkan teh untuk tamu. Dalam tradisi Tionghoa, tuan rumah tidak menyentuh cangkir teh dengan tangan. Ada alat khusus untuk mengangkat dan meletakkan teh ke hadapan tamu. Karena prinsip keluarga Tionghoa, tamu adalah raja.

Etnis Tionghoa juga terkenal royal kepada tamu. Makan siang saya berlangsung di restauran muslim di Dachang. Restaurant itu adalah milik abang kandung paman Wang. Ia menyuruh kami untuk memilih makanan sesuai selera. Karena tidak paham makanan apa yang menarik, keluarga Wang memilih menu terbaik di restauran tersebut. Mereka memesan kaki kambing untuk setiap tamu asing yang diundang. Menurut tradisi, kaki kambing adalah persembahan tertinggi untuk tamu, juga menu yang termahal dan hidangan istimewa.

Salah satu teman saya memasak kari kambing yang ukup enak dari daging yang disediakan. Keluarga Wang sangat bahagia, karena bisa menikmati masakan dari negara lain.

Sebagai bentuk terimakasih, keluarga Wang kembali menjamu kami dengan yangrou chuanr (sate kambing) yang amat terkenal sebagai makanan muslim tionghoa. Untuk pertama kalinya saya makan daging kambing sangat banyak dan rasanya luar biasa enak.

Keluarga Wang juga tidak keberatan mengantar untuk sholat di masjid. Menjelaskan ini dan itu dan mencoba menjadi penerjemah buat semua tamu undangannya. Paman Wang selalu mencoba memberikan yang terbaik, tidak hanya menjemput, ia juga mengantar kembali ke asrama.

Sungguh ini pengalaman berharga dan pelayanan istimewa sebagai tamu. Demikianlah kita dipersaudarakan Islam. Semoga pula anda berkesempatan bertamu ke negeri ini, membuktikan bahwa pergaulan Islam benar-benar tidak terbatas dan menjangkau negeri yang jauh dari tanoh Aceh.    



Tidak ada komentar:

Posting Komentar