Oleh Murizal Hamzah
Innâ lillâhi wa
innâ ilaihi râji`ûn. Lebih dari 700 jamaah haji wafat di Mina pekan lalu.
Mereka sebagai tamu Allah berpulang ke Rahmatullah karena berdesakan dan
terinjak-injak. Dunia berduka atas tragedi kemanusiaan di Tanah Suci. Tidak pelak, jamaah haji yang syuhada itu
mencatat rekor terbesar dalam 25 tahun terakhir. Masih pada September lalu,
sebuah crane ambruk di Kompleks Masjid Haram Mekkah yang menyebabkan paling
kurang 100 jamaah haji meninggal dunia.
Sebelumnya, hal
serupa terjadi di terowongan Al Maaisim
Mina pada 1990 yang menyebabkan paling kurang 1.000 jamaah haji meninggal dunia
karena berdesak-desak. Terowongan itu menghubungkan Mekkah ke Mina dan Arafat.
Peristiwa ini dikenal dengan tragedi terowongan Mina.
Pelajaran apa
yang bisa menjadi hikmah dari peristiwa
di Mekkah dan Madinah tersebut? Tentu banyak hal yang bisa dipetik bagi ummat Islam. Mari kita buka dokumen
tragedi tersebut yang antara lain mengaitkan hal itu karena ada pihak tertentu
yang ke sana atau konspirasi dari berbagai pihak. Ummat pun digiring beropini
sehingga ada pihak yang difitnah atau disalahkan tanpa melalukan verifikasi
alias tabayum bin cek dan ricek.
Ghalibnya, kita
yang tidak paham terhadap situasi di Mekkah dan Madinah ikut-ikut menyebarkan
foto, gambar atau info yang belum jelas atau akurat. Tanpa menyadari berita
yang sebenarnya, baik karena niat memberi kabar untuk kebaikan, kita
menyebarluaskan info yang masih sepenggal melalui media sosial seperti pesan
singkat melalui telepon seluler. Padahal kabar yang kita sebarluaskan itu
berpeluang menimbulkan fitnah atau kebencian terhadap pihak tertentu. Ya setiap
warta itu membawa pesan tersembunyi dan jelas terungkap.
Pada akhirnya
setelah membaca mentah-mentah info yang belum shahih itu, ummat bisa menuduh
pihak tertentu tidak profesional mengurus jamaah haji. Untuk menghibur diri
sendiri, kita menyebut ini sudah takdir bukan nasib. Padahal antara takdir dan
nasib itu berbeda. Nasib itu bisa diubah dengan doa, kerja keras dan sebagainya.
Lahir dari keluarga miskin adalah takdir namun berusaha menjadi kaya adalah
nasib. Maka nasib berkaitan dengan ikhtiar dan pasrah kepada Allah SWT.
Sedangkan takdir sudah ketetapan sejak lahir. Nah kini usai sebuah peristiwa,
kita bisa memilah apa ini disebut nasib atau takdir?
Berdasarkan
literatur tragedi di Tanah Suci, paling kurang ada 10 kasus terjadi di Mina
atau Mekkah yang menelan ratusan korban setiap peristiwa. Jika ditelusuri lebih
lanjut, tragedi yang merenggut nyawa jamaah haji sering terjadi di Mina
yakni ketika ibadah melempar jumrah.
Sebut saja pada 2004 dan 2005, tercatat
ratusan jamaah haji merengang nyawa karena terinjak atau terkena batu lemparan
batu jumrah.
Tragedi itu bisa
membuncah karena calon jamaah haji ingin bergegas menyelesaikan ibadah dengan
mengabaikan keselamatan diri sendiri dan calon jamaah haji lain. Padahal semua
maklum Islam mengutamakan kesabaran dan berpikir sebelum bertindak. Agar
tragedi ini tidak terulang lagi pada masa mendatang, salah satunya setiap jamaah
haji harus tertib atau ikut peraturan.
“Dan sungguh
akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada
orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah,
mereka mengucapkan, "Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji`ûn". Mereka
itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan
mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al-Baqarah 2: 155-157)
Ingatlah, tidak
perlu berdesak-desak di dunia untuk menuju pintu surga di akhirat. Menahan diri
sekejab itu lebib baik. Surga tetap dapat menampung sebanyak ummat yang
beribadah karena ikhlas serta berbuat kebaikan. Jika mayoritas ummat Islam bisa
sedikit sabar, maka tragedi yang merenggung nyawa pada masa kini dan mendatang
bisa dikurangi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar