Selasa, 11 Oktober 2016

Supaya Tulisan Dimuat Kompas:



1. Topik atau tema harus aktual.
2. Argumen dan pandangan harus hal baru.
3. Penyajian jangan berkepanjangan alias singkat saja.
4. Cakupan harus menyeluruh dengan scope yang luas.
5. Pengungkapan dan redaksional harus mendukung gagasan yang dibahas.
6. Konteks harus jelas sesuai cantelan peristiwa dengan duduk perkara yang jelas pula.
7. Bahasan disajikan secara populer dengan memperhatikan khalayak pembaca umum.
8. Urangan jangan sumir, tidak bluffing, hoax, serta jangan berpurbasangka.
9. Hindari gaya tulisan pidato atau gaya makalah untuk konsumsi akademis.
10. Sumber kutipan harus jelas dengan rujukan yang tepat.
11. Jangan terlalu banyak kutipan, secukupnya saja, dan kutipan hanya sebagai penekanan.
12. Diskusi harus berimbang dan tidak tendensius.
13. Alur urian harus runut dengan sistematika berpikir yang logis.
14. Uraian harus memberikan pencerahan serta wawasan baru dengan mengemukakan kebaruan (novelty).
15. Uraian jangan ditujukan kepada orang secara personal, tetapi kepada subyek bahasan.
16. Uraian harus variatif dengan menyertakan konflik, klimaks, kejutan, tidak datar dan membosankan.
17. Alinea atau paragraf dibuat “staccato” atau pendek-pendek saja sehingga tidak “menyiksa” nafas pembaca.

Syarat lain yang amat penting menurut Kepala Desk Opini Kompas (saat itu) Tony D. Widiastono, adalah panjangnya artikel yang cukup 5.300 karakter atau 700 kata saja dalam Bahasa Indonesia.

Biar lebih cepat sampai,tulisan dikirim lewat surat elektronik ke alamat: opini@kompas.co.id atau opini@kompas.com. Naskah yang lolos pemeriksaan akan dimuat secepatnya dengan “telepon cinta” dari editor desk, sebagaimana yang diterima Fuadi. Artinya, naskah yang akan dimuat dalam pekan ini akan diberitahukan kepada penulisnya.

Sumber: http://pepnews.id/2016/09/30/ahmad-fuadi-dan-17-penyebab-tulisan-opini-ditolak-harian-kompas/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar