Oleh Sri Hidayanti, Kepala Baitul Mal Aceh Tamiang
Akhir Januari 2014 lalu, saya diangkat menjadi Kepala Baitul
Mal Tamiang. Mugkin anda belum tahu, lembaga semacam apa Baitul Mal. Bergerak
di bidang apakah kiranya.
Baitul Mal adalah lembaga daerah non struktural yang
bertugas mengelola zakat, infaq, shadaqah dan harta agama lainnya dan sekaligus
mendistribusikan dan mendayagunakannya sesuai aturan perundangan yang berlaku.
Selama lima tahun trakhir saya terjun di bidang ini, saat
itu saya belum menduduki top leader.
Penerimaam zakat ketika itu masih Rp 2 milyar.
Saya kumpulkan tim saya
dan memasang target dua kali lipat dari pemasukan sebelumnya dan
harus diraih tahun depan. Awalnya, tim
saya menolak, karana dianggap terlalu tinggi, mengingat kendala yang dialami
selama ini, seperti mininmya sosialisasi dan masih lemahnya regulasi yang tersedia,
sehingga sulit menembus birokrasi. Tapi saya tetap memutuskan untuk menembusnya.
Stress? Capek? Tentu saja itu terjadi. Setiap kita mengawali
suatu tantangan baru atau merintis suatu perubahan pasti akan menimbulkan
kontraksi. Tapi kapan lagi kalau tidak dimulai dari sekarang. Maka mulailah kita susun
strategi.
Pertama, memperbaiki regulasi zakat dan infaq yang ada. Saya
masih ingat bagaimana dalam sehari tim saya yang notabene minim ilmu legal drafting harus belajar menyusun
sebuah Perbup Pengelolaan Zakat.
Alhamdulillah kami mendapat bantuan dari kawan-kawan di Baitul
Mal Aceh. Hadir mendampingi kami, sayed Muhammad husen, yang pada saat itu menjabat
Kabid Pengumpulan Zakat Baitul Mal Aceh.
Kedua, surat menyurat kita tingkatkan kepada semua instansi
terkait dan seluruh pertokoan dan usaha
berisi imbuan berzakat.
Ketiga, menggencarkan kampanye zakat dengan memasang
seratus sepanduk ajakan berzakat dan dalam waktu bersamaan menjalin sinergi
dengan para da’i dan khatib Jumat untuk membantu mensosialisasikan zakat di tengah-tengah
masyarakat.
Saya masih ingat sindiran Kakanmenag Aceh Tamiang, Salamina Marwah: “Hebat kali
spanduk Baitul Mal ya.”
Alhamdulilah kerja tim saya berhasil menembus target
tersebut mencapai Rp 3,7 miliar dan sekarang sudah mencapai Rp 9 milyar.
Saya tahu, tim saya saat itu stres, atau mungin capek,
tapi memang kita membutuhkan stes, kita menciptakan kontraksi, agar kita mampu
menciptakan lompatan dalam kinerja kita. Maka teruslah stres dan teruslah kontraksi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar