Oleh: Prof Dr Abdul Hadi WM
Guru Besar Universitas Paramadina
Sejarah bagaimana propinsi Nanggroe
Aceh Darussalam mau bergabung dengan negara RI dan siapa atau golongan apa yang
saja yang memainkan peranan penting, pada saat sekarang ini harus dijelaskan
secara jujur dan obyektif oleh ahli-ahli sejarah yang kompeten.
Dulu ketika sejarawan Aceh
kelahiran Langsa Prof Ibrahim Alfian masih hidup, saya sering bertemu dan
berbincang dengan beliau tentang hal ini. Ketika beliau menjadi dosen tamu di
Universiti Kebangsaan Malaysia pada tahun 1973-75, beliau juga menceritakan
banyak hal tentang ini.
Kalau tak salah dengar, beliau
mengatakan bahwa peranan organisasi Islam seperti Sarekat Islam (SI),
Muhammadiyah, dan lain-lain memainkan peranan penting dalam menanamkan
kesadaran bahwa rakyat Aceh perlu bersatu dengan rakyat Indonesia dari suku
serumpun Melayu yang sama-sama beragama Islam.
Alasannya Aceh memainkan peranan
penting dalam penyebaran Islam dan peradaban Islam di Nusantara, rakyat Aceh
harus berpisah dengan saudara-saudaranya yang ada di Jawa, Sulawesi, Kalimantan
dan lain-lain.
Kecintaan orang Aceh kepada
Indonesia tidak diragukan lagi. Ketika RI memerlukan pesawat terbang, maka
orang kaya Aceh bergotong royong membelikan RI pesawat terbang Seulawah untuk
kepentingan tentara TNI Angkatan Udara.
Pada tahun 1948 Sukarno datang ke
Aceh dan menjanjikan kepada Aceh status Daerah Istimewa.
Tetapi setelah pengakuan kedaulatan
RI pada tahun 1950, wilayah propinsi Aceh dikurangi oleh pemerintah pusat.
Sebagian wilayah propinsi Aceh dimasukkan ke dalam wilayah propinsi Sumatra Utara.
Konon termasuk wilayah yang sekarang termasuk Kabupaten Singkil, tempat lahir
ulama atau wali sufi terkenal Syekh Abdul Rauf Singkil.
Karena ketidak puasan terhadap
pemerintah pusat inilah Daud Beureuh, pemimpin Aceh 1950an, kemudian bergabung
dengan DI/TII sebagai protes.
Nah, ahli sejarah bisa meneruskan
memberi paparan bagaimana Aceh selanjutnya setelah Daud Beureuh kembali ke
pangkuan RI pada akhir tahun 1950-an.
Kita potong langsung ke zaman Orde
Baru. Entah apa sebab musababnya DOM (Daerah Operasi Militer) diberlakukan di
Aceh menjelang tahun 1950-an.
Aceh pun bergolak menjadi daerah
yang membara sampai akhirnya muncul Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dipimpin
Hasan Tiro.
Nah, y
ang ingin saya tekankan
di sini ialah: Masuk atau bergabungnya Aceh kepada RI bukan hadiah dari
pemerintah kolonial Belanda, juga bukan hadiah pemerintah pendudukan Jepang
atau pasukan sekutu.
Pemerintah RI dan rakyat Indonesia
di daerah lain seperti di Jawa, hendaknya tahu diri. Jangan mentang-mentang
Aceh adalah bagian dari RI, maka Aceh dan agama yang dianut penduduknya
diperlakukan semena-mena dan hanya dicap sebagai sarang pelatihan terorisme dan
kaum radikal.
Kita orang di luar Aceh juga harus
tahu diri, sebagaimana harus tahu diri menyikapi orang Papua, Sulawesi, Nusa
Tenggara Barat (NTB), dan lain sebagainya.
Aceh bukan hadiah dari Pancasila.
Aceh adalah hadiah dari Islam dan sejarah Islam!
Sumber: republika.co.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar