Oleh Ulfa Khairina
Setelah beberapa kali menulis
tentang lingkungan baru di Beijing, baik melalui blog, citizen reporter dan catatan di status Facebook. Beberapa pembaca,
ada yang saya kenal dan tidak. Mereka bertanya, “Bagaimana dengan makanan halal
di Beijing? Apakah sudah yakin apa yang Ulfa makan semuanya halal, tidak
mengandung babi?” Pertanyaan-pertanyaan itu dikirim melalui email, aplikasi chatting dan ada pula yang bertanya
langsung.
Pertanyaan-pertanyaan seperti
sangat wajar. Mengingat Tiongkok bukanlah negara yang bermayoritas muslim.
Terlebih lagi dikenal dengan negara komunis. Meskipun komunis adalah sebuah
ideologi. Komunisme pada awal kelahiran adalah sebuah koreksi terhadap paham
kapitalisme di awal abad ke-19, dalam
suasana yang menganggap bahwa kaum buruh
dan pekerja tani hanya bagian dari produksi dan lebih mementingkan
kesejahteraan ekonomi.
Pada akhirnya paham ini kerap
dikait-kaitkan pada penolakan ketidakinginan percaya pada Tuhan. Padahal di Tiongkok
banyak pengikut agama Buddha, ada yang kristen dan ada yang pula yang muslim,
meskipun banyak yang masih tidak mempercayai adanya Tuhan dan mereka mengikuti
aliran Kongzi (Konfusius), seorang
pemikir Tiongkok yang monumennya tersebar di setiap kampus. Penduduk muslim
tersebar luas di provinsi Xinjiang dan Gansu, dua wilayah yang selalu dilirik
‘lebih’ oleh pemerintahan.
Kekhawatiran yang sama juga
menghantui saya ketika pertama kali ke Beijing. Menurut informasi yang saya
dapat sebelum berangkat, Tiongkok bagian utara adalah kawasan yang hampir tidak
ada muslim dan makanan halal sulit dicari. Berbeda dengan kawasan selatan. Tapi saya
yakin ummat muslim dimana-mana, dengan penampilan saya yang berjilbab tidak
mungkin tidak ada seorangpun hamba Allah yang menolong.
Sebelum berangkat ke Beijing, saya
mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang kehidupan di Beijing. Saya
catat dalam agenda mungil yang terus saya tenteng. Termasuk tulisan qingzhen (halal) dalam hanzi dan bagaimana memprononsasikan kata
ini.
Salah satu informasi yang saya
dapat dari blog seorang mahasiswa asal
Malaysia cukup menarik. Kekhawatiran saya pun berkurang. Dia menulis bahwa Tiongkok
merupakan salah satu negara yang pemerintahannya memberi kebijakan kepada
kampus. Tiap kampus harus membangun dan menyediakan makanan halal untuk untuk
pelajar di kampus yang menuntut ilmu di sana. Blogger asal Malaysia ini melanjutkan studi di Beijing Foreign Studies University. Ia menulis untuk memberikan
informasi kepada calon-calon pelajar asal negeri jiran. Informasi ini juga
bermanfaat bagi saya tentunya.
Meskipun informasi yang saya
kumpulkan cukup banyak. Saya juga sempat kebingungan dengan deretan rumah makan
yang tulisannya sama semua di mata saya. Karena ragu, dua hari pertama saya
tidak makan nasi. Saya hanya makan buah. Semua makanan, seperti biskuit di
super market seakan hilang label halalnya. Di hari ketiga baru saya menemukan
rumah makan muslim di luar kampus. Agak jauh. Setiap hari saya bungkus dan
makan di asrama. Satu porsi saya bagi dua, makan siang dan makan malam.
Sebulan kemudian baru saya
menemukan kantin muslim di area kampus. Letaknya berdekatan dengan kantin umum
yang besar dan terdiri dari dua lantai. Sementara kantin muslim letaknya hampir
tak diketahui dan kecil sekali. Hanya tulisan syahadat di pintu masuk yang
menjadi tanda.
Sampai di sana pun saya tidak
menikmati kemudahan makan. Kartu kantin saya tidak bisa digunakan. Anehnya
kartu saya bisa digunakan di kantin manapun, termasuk belanja di supermarket.
Tapi tidak di kantin muslim. Untuk menggunakannya harus diaktifkan dulu di
kantor kemahasiswaan dengan menyebut status agama.
Dengan keterbatasan bahasa dan perut kosong, saya
hanya bisa terdiam. Seorang gadis Tiongkok dengan wajah kebule-bulean
menghampiri saya. Ia menjelaskan sebab tidak bisa digunakan, dia juga
menawarkan menggunakan kartunya. Dari paras dan bahasa yang ia gunakan, saya
menebak dia adalah etnik Uyghur, provinsi Xinjiang. Karena gadis itu akhirnya
saya makan nasi. Sayangnya sampai sekarang saya tidak pernah melihat dia lagi.
Setelah kejadian itu, ternyata ada
kantin muslim lainnya terletak di gerbang timur kampus. Makanannya tidak seenak
di kantin kampus. Namun cukup membantu mengganjal perut. Cara saya memesan
makananpun hanya dengan modal menunjuk gambar atau tulisan secara acak.
Kadang-kadang makanan yang saya tebak enak, kadang tidak bisa diterima perut.
Setelah satu semester semuanya
jauh lebih baik. Meskipun tidak sepenuhnya bisa membaca hanzi. Namun saya bisa mengenali dengan baik rumah makan muslim.
Teman-teman non muslim terkadang bertanya meminta pembuktian, “Kenapa kamu
tahu? Berikan bukti.”
Pertama, kenali warna. Islam
identik dengan warna hijau. Umumnya rumah makan muslim di Beijing dan kawasan
lain di China ditulis dengan warna hijau. Sejauh ini saya tidak menemukan warna
lain. Meskipun banyak rumah makan umum yang berwarna hijau, tapi khusus untuk
muslim ada tulisan 清真 (baca: qingzhen),yang artinya halal, dilengkapi dengan tulisan
syahadat yang kurang rapi bahkan terkadang nyaris tidak terbaca.
Kedua, jika restoran besar umumnya
didekorasi dengan gaya timur tengah. Mirip mesjid. Jika tiba di dalam
suasananya juga berbeda. Ornamen Islami terpajang dimana-mana dan musik yang
dinyalakan sebagai background
kadang-kadang lagu dengan bahasa uyghur atau irama timur tengah.
Ketiga, penampilan penjual
berbeda. Mereka menutup seluruh kepala atau setengah kepala dengan cara khas.
Hampir semua penjual berpenampilan seperti ini.
Kemana saja saya melangkah, mata
saya selalu menangkap rumah makan muslim di Beijing. Saya pun tidak takut
kelaparan lagi di negeri ini karena salah makan. Bahkan di sekitar kampus, saya
menemukan sekitar delapan kantin muslim. Harganya bervariasi, makananya berbeda
rasa. Di antara semua jenis makanan, lidah saya paling familiar dengan makanan
Xinjiang. Tidak seperti chinese food
pada umumnya.
Beijing cukup ramah kepada orang
asing, kepada muslim. Khususnya bagi orag asing. Beberapa orang yang pertama
kali ke Beijing menganggap Beijing begitu mengerikan, kolot dan terbelakang
budaya. Mungkin juga karena culture
shock.
Saya tidak merasa ditatap aneh di
sini. Berbeda sekali ketika saya pergi ke luar dari kota Beijing. Penduduk
lokal akan datang mendekat , menatap saya lama-lama. Ada yang diam-diam
memotret, tapi suara kamera tidak dinonaktifkan. Cukup jelas untuk mengetahui
ada ‘paparazzi’. Ada pula yang datang
dengan sopan dan mengajak foto bersama. Mungkin di mata mereka orang asing
dengan kerudung agak unik.
Di Beijing, semuanya normal.
Penulis adalah mahasiswi program magister jurusan
International Journalism and Communication, School of Television, Arts and
Journalism, Communication University of China, Beijing-Tiongkok.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar