Daya Tarik Kota Suci
Oleh: Ahmad Faizuddin
Kota
Makkah dan Ka’bah senantiasa menjadi daya tarik bagi ummat Islam. Namun menurut
beberapa jama’ah, banyak perubahan terjadi di kota yang mulia ini dibandingkan
1980-an dulu.
Makkah
dulu masih di kelilingi dengan bukit berbatu. Rumah penduduk bertebaran di atas
bukit sekitar Masjidil Haram. Banyak kedai-kedai kecil di sekeliling masjid
yang menawarkan para jama’ah berbagai macam barang dan cinderamata.
Yang
menarik, cerita tentang para penjual dan pembeli di kedai-kedai tersebut.
Ketika azan berkumandang semuanya meninggalkan aktivitas jual beli dan
membiarkan kedai terbuka begitu saja.
Makkah
sekarang sudah berubah. Rumah-rumah penduduk disekitar bukit tergantikan dengan
gedung-gedung megah perhotelan untuk para jama’ah Haji. Beberapa bangunan lama
diruntuhkan untuk proyek pembangunan dan pelebaran Masjidil Haram. Mungkin
karena mengingat bertambahnya jumlah jama’ah setiap tahun, hal ini supaya masjid
bisa menampung jama’ah yang banyak dan memberikan kemudahan ibadah kepada
semua.
Banyak
bangunan-bangunan baru untuk kemudahan beribadah. Terowongan baru dibangun
untuk mengatasi sesaknya jama’ah memasuki Masjidil Haram. Ruang untuk
melaksanakan thawaf kini lebih besar dan dapat dilakukan di tingkat atas.
Tempat ibadah lari-lari kecil antara bukit Safa dan Marwah pun sudah bertingkat
tiga.
Yang
menjadi pusat perhatian tentu saja Ka’bah yang mulia. Ka’bah dibangun oleh Nabi
Ibrahim a.s. bersama putranya Nabi Ismail a.s. Dinamakan dengan Ka’bah karena
bangunannya yang bersegi empat. Dalam bahasa Arab, rumah bersegi empat biasanya
dinamakan dengan Ka’bah.
Dalam
Al-Qur’an Surah Al-Fiil (105:1–5) Allah SWT menceritakan tentang burung-burung
Ababil yang menghancurkan pasukan bergajah. Raja Najasi bernama Abrahah dari
negeri Habasyah menyerbu Makkah dan berusaha meruntuhkan Ka’bah, namun Allah
menggagalkan rencana mereka.
Allah
SWT berfirman, “Allah telah menjadikan
Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia,
dan (demikian pula) bulan Haram, hadya, dan qalaid. Allah menjadikan yang
demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesugguhnya Allah mengetahui apa yang ada di
langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesugguhnya Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu” (QS Al-Maidah 5:97).
Adapun
yang dimaksudkan dengan pusat peribadatan dan urusan dunia bagi manusia adalah
Ka’bah. Sekitarnya menjadi tempat yang aman bagi manusia untuk mengerjakan
urusan-urusan duniawi dan ukhrawi. Sementara itu, bulan haram adalah bulan-bulan
yang dilarang melakukan peperangan di dalamnya, yaitu bulan Zulka’dah,
Zulhijjah, Muharram dan Rajab.
Hadya adalah binatang-binatang yang dibawa ke Ka’bah untuk
disembelih di tanah haram dalam rangka ibadah haji dan dagingnya dihadiahkan
kepada fakir miskin. Biasanya berupa unta, lembu, kambing atau biri-biri.
Adapun qalaid maksudnya binatang hadya yang sudah ditandai dengan kalung
supaya orang mengetahui, bahwa binatang tersebut diperuntukkan untuk dibawa ke
Ka’bah. Dengan penyembelihan tersebut, orang yang berqurban mendapat pahala
yang besar dan fakir miskin mendapat kesenangan dari daging-daging sembelihan
yang diperolehnya.
Di
Ka’bah ada sebuah batu bernama Hajar al-Aswad. Secara bahasa ia berarti ‘Batu
Hitam’. Hukum mencium Hajar al-Aswad ini sunat pada permulaan tawaf. Dalam
sebuah hadits riwayat dari Imam Al-Turmuzi diceritakan, bahwa Hajar al-Aswad
akan menjadi saksi di akhirat kelak bagi mereka yang menciumnya dengan
kebenaran.
Hal
ini berarti belum tentu orang yang mencium Hajar al-Aswad akan memperoleh
syafa’at di Hari Akhirat. Karena boleh jadi ia melakukannya dengan menyakiti
jama’ah yang lain untuk mencium Hajar al-Aswad.
Semoga
pesona tanah suci ini senantiasa kita nikmati sampai akhir zaman. Semoga
jama’ah haji yang menunaikan ibadah di dalamnya mendapatkan gelar mabrur dan semoga ummat Islam yang belum
menunaikan haji mendapatkan kesempatan mengunjungi tempat yang penuh berkah
ini. Wallahu a’lam.
Penulis, mahasiswa program Doctoral di Kulliyyah of Education,
Educational Management and Leadership, International Islamic University
Malaysia (IIUM)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar