Selasa, 29 Maret 2016

Ceramah Maulid Masrul Aidi

Ceramah Maulid
Pada Peringatan Maulid Nabi Besar Muhmmad SAW
Oleh H. Masrul Aidi, Pimpinan Dayah Babul Maghfirah Aceh Besar
Tanggal 22 Maret 2016/13 Jumadil Akhir 1437
di Halaman Gedung Baitul Mal Aceh
Dengan Tema: Kita Tingkatkan Etos Kerja, Keikhlasan dan Kredibelitas Amil Baitul Mal Aceh

Baitul Mal adalah kantor paling kaya pada Rasulullah Muhammad SAW dan periode sahabat, karena pada masa itu semua harta terkumpul disini. Baitul Mal ini adalah rumah harta, semua harta disimpan di kantor ini. Sekarang memang kenangan Baitul Mal terbatas. Jadi kantor ini harus bisa mengelola harta tersebut secara transparan dan tepat sasaran.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW mengatakan, jika kita terbangun di waktu pagi dalam keadaan aman, mendapati badan yang sehat dan tersedia makanan untuk sehari, maka kita adalah orang yang kaya.

Dalam kehidupan ini ada tiga hal yang jarang kita syukuri. Pertama, yang sering kita lakukan ketika bangun pagi membuat ketidaknyamanan terhadap diri kita dan keluarga kita, padahal kenyamanan diwaktu pagi adalah 1/3 kebahagian di dunia.

Kedua,  terkait dengan kesehatan,  sehat badan itu dimulai dari sehat hati, jika hati sakit, maka badan pun ikut sakit, walaupun kita sudah menjaga kesehatan badan kita dengan makan makanan yang sehat.

Jika tidak percaya coba lihat, orang yang selalu menjaga kesehatan badannya, namun selalu curiga dengan orang lain. Dia  tidak makan sembarangan, karena takut tidak steril, namun hati tidak dijaga dengan baik, maka orang tersebut rentan terkena penyakit.

Tapi coba lihat orang gila, walaupun dia makan makanan sampah, tidak pernah menjaga badannya dengan benar, namun tidak pernah kita melihat orang gila sakit, karena hati mereka tidak dikotori dengan curiga terhadap orang lain.

Orang gila tidak pernah curiga dengan orang waras, malah orang waras yang selalu curiga pada orang gila.

Jadi, sakit itu tergantung bagaimana kita menikmati. Kalau kita menikmati penderitaan, maka seberat apapun penderitaan yang kita hadapi, kita pasti sanggup. Sementara kesehatan adalah mahkota yang ditempatkan di kepala orang-orang yang sehat jiwanya.

Jangan pernah korbankan kesehatan untuk kekayaan kita, karena kekayaan tersebut akan kita korbankan untuk kesehatan kita.

Ketiga, tersedia makanan untuk sehari. Persoalan kita bukan pada miskin kaya pada harta, tetapi miskin kaya pada jiwa. Sementara kita lebih senang mengaku miskin demi mendapatkan uang 100.000,-

Tidak ada seorangpun sahabat nabi yang ingin menurunkan derajatnya dengan meminta-minta, walaupun mereka betul-betul dalam keadaan kelaparan. Jadi jangan pernah mempertanyakan gaji, lakukan yang terbaik, maka gaji akan datang dengan sendirinya. Jika kita bisa memberikan yang terbaik, maka pekerjaan yang akan melamar kita.

Tugas amil melakukan yang terbaik, soal gaji biar dipikirkan bendahara, karena itu tugas bendahara, untuk apa kita pikirkan.

Dalam hal pengelolaan zakat, zakat yang didapatkan dari penduduk suatu wilayah, maka zakat tersebut harus disalurkan kepada penduduk miskin di wilayah tersebut. Jika ada yang membayar zakat ke daerah lain, maka zakatnya sah, tapi berdosa dalam prakteknya. Zakat sifatnya teritorial. Orang kaya di suatu wilayah wajib bertanggungjawab terhadap orang miskin di wilayah tempat dia mencari nafkah.

Yang menjadi masalah adalah, masih ada teungku-teungku di kampung yang menyarankan kepada orang yang bekerja di luar kampung halamannya untuk menyalurkan zakat kepada penduduk kampungnya, bukan di tempat dia mencari nafkah. Hal ini disebabkan kita lebih mementingkan tradisi daripada referensi.

Jadi bukan kekayaan kita yang membuat kita terhormat, tetapi kedermawanan kita akan membuat kita berwibawa dan terhormat. Semiskin apapun kita, akan mulia dan terhormat karena kedermawanan kita.

Kemudian, zakat bukanlah sedekah orang kaya untuk orang miskin, tapi zakat adalah hak fakir miskin yang disalurkan Allah melalui harta orang kaya. Jadi zakat ini harus diberikan kepada orang miskin, tanpa membuat mereka kehilangan rasa hormatnya.

Karena itu, amil Baitul Mal Aceh bukan duduk manis menunggu orang datang membayar zakat, karena tugas amil bukan hanya sebagai pencatat penjaga gudang. Amil bertugas mencari orang yang berpotensi membayar zakat, kemudian mengumpulkan atau mengutip zakat tersebut, dicatat dan diantarkan kepada mustahik.

Tugas kita adalah mengangkat derajat kaum miskin dengan mengantar zakat ke rumah mereka. Jangan menyuruh mereka mengambil zakat ke Baitul Mal, karena itu akan mempertontonkan kemiskinan dan merendahkan harga diri mereka.

Selain itu, kalau kita menikmati proses, kita akan menjadi pribadi yang berbahagia, walau hasilnya tak seberapa. Jika kita tidak bisa meikmati proses, tapi hanya mengharapkan hasilnya saja, maka kita adalah orang yang gagal. (smh)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar